Jumat, 08 Mei 2015

5. Pangeran Bayuwardana, Putra Raja



5.Pangeran Bayuwardana, Putra raja
Dengan serius Tanca mendengarkan cerita dari ibunya, yang selama ini belum pernah ia dengarkan, tanpa ia sadari bahwa makhluk yang berada di dalam perutnya sudah berteriak-teriak minta makan, begitu Tanca menyadarinya, tanpa komando ia langsung melahap apel merah yang ada di depannya, sambil ia terus mendengarkan cerita ibunya. Putri keluar dari dapur dengan mulut penuh dengan sayuran yang masih segar membuat Tanca terkejut.
“Putri…apa yang kau perbuat!” ibu Rahayu yang sedang serius bercerita, terbelalak begitu melihat sayurannya melayang-layang di depan matanya, matanya melotot tak percaya, tubuhnya tak bergerak mematung, ia ingin berbicara namun tak dapat mengeluarkan kata-kata, masih begitu sampai beberapa menit, hingga akhirnya tubuhnya terjatuh pingsan.
“Tu…kan, Putri sih bikin ulah. Ibu itu tidak bisa melihatmu, Putri…! Ibu hanya bisa melihat sayuran yang kau makan”.
Sekarang Tanca yang mencoba menyadarkan ibunya, sedangkan si Putri masih asik dengan sayuran yang masih belum di masak, sambil sesekali ia meringik, mungkin sudah lama ia tak pernah mencerna makanan, ia tak perduli dengan omelan Tanca yang terdengar semakin membosankan. Setelah ia merasa ibunya sudah baikan, ia segera meningalkan ibunya di kamar tidurnya yang sangat berantakan. Setelah itu ia mengajak teman barunya ke rumah Dhogle sahabat sejatinya.
Sampai rumah Dhogle, Dhogle masih tidur, seperti biasa setiap Tanca sampai rumah Dhogle ia terus saja menuju ke kamar sahabatnya itu, tanpa permisi Tanca sudah berada di kamar Dhogle, Dhogle sendiri masih berada di atas ranjangnya dengan ke adaan seluruh tubuhnya di lilit oleh kain putih, sepertinya itu semua terjadi akibat kejadian semalam, sewaktu Dhogle jatuh dari atap rumahnya, Tanca tidak tau kejadian itu, jadi begitu ia sampai….
“Dhogle…” Tanca melompat terbang dan mendarat tepat di atas Dhogle.
“Aaaa…” Dhogle menjerit sekuat tenaga, akibat sakit yang ia rasakan. Tanca menyadari kejadian itu, dengan sigap Tanca bangun dari atas tubuh Dhogle yang dililit kain putih.
“Kenapa kau Gle?” Tanca melihat keadaan Dhogle, wajah pucat seperti orang mati, ia masih merintih kesakitan, terlihat sekali muka marahnya, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa marah, itu saja dan Tanca hanya bisa tertawa.
“Dhogle kau kenapa? Masa iya sih cuman gara- gara si bocah cantik itu, kau sampai seperti ini. Kau ribut sama kekasihnya?” Dhogle tak menjawab, dan memang dia tak dapat bergerak banyak, Dhogle sebenarnya ingin menjelaskan semua tentang kejadian tadi malam, tapi ya… dia tidak bisa berbuat banyak, serasa tulang di dalam tubuhnya sudah tidak ada yang utuh lagi.
“Kenapa kau tidak minta bantuan padaku, aku siap membela kau sampai titik darah penghabisan, cerita dong, Dhogle!” Dhogle masih belum menjawab.
“Gle, kau tau tidak, semalam aku pergi kemana?” Dhogle tak menjawab juga, tapi Tanca tau jawaban Dhogle.
“Semalam aku pergi ke kota lain.” Dhogle masih diam pasti dalam hatinya ia berkata ‘dasar tukang bohong’.
“Ternyata dunia ini sangat luas Gle, luas banget. Banyak yang baru aku ketahui.” Dhogle sedikit melirik Tanca, karna Tanca bercerita dengan serius, tak ada tersirat kebohongan di wajahnya. Apel merah kesukaan Dhogle bertengger di atas piring bertumpuk-tumpuk, menggoda Putri untuk kembali usil, akhirnya Dhogle penasaran dengan cerita sahabatnya.
“Memangnya kota lain itu dekat Ca?”
“Dekat Gle dekat sekali, sebab aku perginya naik Pegazus.” Tanca melihat aksi Putri.
“Pegazus?” Dhogle masih belum mengerti.
“Putri….jangan usil lagi!” tapi Tanca telat memperingatinya, apel merah Dhogle sudah nempel di kedua bibirnya, siap untuk di santap.
“Ca kenapa apel merahku bisa melayang sendiri?” Dhogle tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia melihat satu persatu buah kesukaannya lenyap. Tanca cuek dengan kelakuan Dhogle yang terheran-heran dengan ulah Putri.
“Kenalin Gle itu teman baruku, namanya Putri.” Dhogle makin tidak mengerti.
“Kau sudah sakit sejak kapan sih Ca? Kau kenalin aku sama siapa? Disini tidak ada orang lain.”
“Kau juga tidak bisa melihatnya ya Gle? Semalam aku ke kota lain bareng sama dia.”
“Maksud mu, dia itu siapa?”
“Ya…Pegazus itu”
“Pegazus itu apa dan bagaimana aku juga tidak tau bodoh.” Dhogle sedikit emosi, membuat sakit di sekujur tubuhnya terasa lagi. Putri melihat tingkah Dhogle yang memang benar-benar sedang kesakitan. Tanpa pikir panjang ia melakukan hal yang sama seperti ia melakukanya pada luka-luka Tanca, keluar dari tubuh Putri seperti cahaya, cahaya itu neresap ke luka-luka Dhogle. Seperti Tanca juga Dhogle merasakan sakit yang sangat sakit di sekujur tubuhnya.
“Ca, kenapa badanku jadi sakit semua, Ca sakit banget, Ca sakit…” Dhogle mulai meronta, menahan sakit ia berteriak, keras sekali, tapi sepertinya di rumah sedang tidak ada orang, ayah dan ibu serta ke tiga adik Dhogle pasti sudah berangkat ke pasar. Selesai ia berteriak, Dhogle tak bergerak, terdiam sepertinya ia kelelahan.
“Bagai mana Gle sudah mending?”
“Iya mending tidak sakit lagi.” Ia meraba sekujur tubuhnya.
“Kok tidak sakit lagi Ca?” Ia melepas kain putih yang melilitnya “Kemana luka-luka memarku bekas jatuh dari atap semalam?”
“Ooo jadi kau jatuh dari atap rumah? Aku kira kau ribut sama kekasih Saphina.” Dhogle masih fokus pada tubuhnya yang sembuh dengan ajaib. Dhogle merasa tubuhnya lemas rasanya ia ingin tidur, ia merebahkan tubuhnya lagi. Tanca juga merasakan hal yang sama, ia pun lekas merebahkan tubuhnya asal saja di atas ranjang sahabatnya, yang penting ia bisa tidur. Dari tubuh Putri keluar asap, lalu asap itu meresap ke dalam kepala mereka berdua.
   Seorang pemuda berpakaian rapi, persis seperti seorang anak Raja sedang mengejar buruannya, ia mengendarai kuda bersama dengannya seorang Panglima.
“Pangeran, rusanya ke sana.”
“Terus kejar Panglima jangan samapai lolos!” seorang yang di sebut Panglima itu mengejar rusa yang kakinya sudah terkena panah oleh sang Pangeran. Pemuda yang di sebut Pangeran itu berhenti dan turun dari kudanya, para prajurit langsung menggelar tenda, Pangeran itu duduk di tempat yang sudah di siapkan oleh para prajurit. Seorang yang sudah tua berpakaian seperti seorang Penasehat mendekatinya.
“Pangeran Bayuwardana, sepertinya ini sudah sore, alangkah baiknya jika kita kembali ke istana, baginda Raja Syahro pasti sudah mencemaskan Pangeran.”
“Iya paman Aryawira, tapi kita perlu istirahat, semua prajurit juga perlu istirahat, kita tunggu Panglima Ishkaria kembali dulu ya!”
“Baiklah Pangeran.” Orang yang di sebut paman Aryawira itu berbaur lagi dengan para prajurit. Pangeran Bayuwardana melepaskan lelah dengan bersantai di bawah pepohonan besar.
“Pangeran…,Pangeran…”seorang prajurit berlari-lari ke arahnya dengan panik.
“Ada apa prajurit? Kenapa kau berlari-lari begitu?”
“Di sana ada... ada...ada...”
“Atur nafas dulu, baru bicara!” prajurit itu mengikuti saran dari Pangerannya.
“Sudah tenang?” prajurit itu mengangguk “sekarang coba kau ceritakan padaku semua yang telah terjadi.
“Di sana ada…” belum sempat prajurit itu meneruskan laporannya, Panglima Ishkaria kembali bukan dengan rusa buruannya tapi dengan membawa seorang wanita terluka parah.
“Itu maksud hamba Pangeran, ada seorang wanita terluka parah di dalam hutan.” Pangeran Bayuwardana langsung ikut melihat wanita itu, wanita itu, terluka parah, memar di sekujur tubuhnya, wajahnya penuh dengan luka goresan, sepertinya wanita itu baru di siksa oleh orang-orang, lalu dia di buang ke dalam hutan. Entahlah itu baru pikiran Pangeran Bayuwardana, belum tentu benar, karna wanita itu sekarang masih tidak sadarkan diri.
“Prajurit! Bawa wanita ini pulang!” Pangeran Bayuwardana memberi perintah, orang yang di sebut Pangeran Bayuwardana paman Aryawira seperti telah membaca sesuatu, dari itu lah dia berani melarang Pangeran Bayuwardana.
“Pangeran, kalau boleh aku memberi saran, sebaiknya Pangeran jangan pernah membawa wanita itu ke Kerajaan.”
“Kenapa paman? Dia memerlukan pertolongan kita.”
“Hamba juga tidak tau Pangeran, tapi hamba melihat sesuatu yang akan terjadi.”
“Apa itu paman? Katakan!”
“Hamba tidak tau Pangeran.” Pangeran Bayuwardana sedikit berfikir apakah ia harus mengikuti saran paman Aryawira, atau akan membiarkan wanita itu tetap di hutan ini, yang pasti bahaya akan mengintainya dari berbagai segi, belum tentu hari esok ia masih utuh, bisa saja wanita ini sudah menjadi santapan para binatang buas, dan tinggal kerangkanya saja ketika mereka temui lagi. Sebenarnya belum pernah Pangeran Bayuwardana mengabaikan saran Penasehat ayahnya ini, tapi kali ini...
“Tidak paman, aku akan menolong wanita ini, maafkan aku paman.” Paman Aryawira tidak dapat menolak keputusan anak dari rajanya, meski apapun yang akan terjadi ia kini tinggal menerima saja keputusan yang kuasa. Para prajurit segera membuat tandu untuk membawa tubuh tak berdaya entah milik siapa, Pangeran hanya berniat untuk menyelamatkan nyawanya saja, ia tak pernah berfikir apa yang akan terjadi berikutnya, seperti apa yang telah di bicarakan oleh paman Aryawira. Dan Panglima Ishkaria bukanlah pembela Aryawira jadi ia hanya menurut dengan semua perintah Raja dan Pangerannya saja.
Sampai di istana wanita itu di obati oleh tabib-tabib yang ada, namun tak ada satu tabib pun yang bisa membuat wanita itu kembali membuka matanya, hanyalah seorang Penasehat Aryawira yang sebenarnya mampu menyembuh kannya, tapi Aryawira sudah tau akibatnya bila wanita itu kembali membuka matanya, meskipun ia tak tau apa itu.
“Penasehat, aku, rajamu yang memohon padamu, tolong selamatkan wanita ini!” sampai rajanya yang memohon barulah Aryawira terpaksa menyembuhkan wanita itu.
“Terimakasih paman Aryawira.” Pangeran Bayuwardana untuk yang ke sekian kalinya berterima kasih kepada Penasehat ayahnya. Meskipun akhirnya wanita itu dapat kembali membuka matanya, tapi bekas luka di wajahnya tak dapat hilang.
Semakin hari wanita itu semakin pulih, kini ia sudah mempunyai namanya kembali, Syafira, sebuah nama yang indah nan cantik, tapi tak se cantik wajahnya, yang di penuhi dengan bekas luka, Pangeran Bayuwardana yang terkenal mempunyai banyak kekasih, pandai merayu wanita, masih tetep seperti itu, tapi ada yang baru yang menjadi kegiatan sehari-harinya, menemui Syafira, wanita yang sudah ia selamatkan dari dalam hutan tempat Pangeran berburu. Semakin hari Syafira semakin di kenal oleh rakyat Kerajaan, yang di pimpin oleh Raja  Syahro, yaitu Kerajaan Sinagablu.
Rakyat menyebutnya dengan julukan Putri Syafira, tuturkatanya yang ramah dan sopan pada orang lain, membuat orang lain juga menghormatinya, meski wajahnya masih tak berubah, masih di penuhi dengan bekas luka, namun itu tak pernah membuat Putri Syafira rendah diri, karna semua tingkah laku dan semua yang di lakukan oleh Putri Syafira itulah perlahan Pangeran menjadi semakin menaruh hati pada sang Putri, kebiasaan bermain wanita ia tinggalkan, hingga banyak wanita yang putus cinta karna di tinggalkan olehnya, semua hati sudah di dapatkan oleh Syafira, hanyalah sang Permaisuri yang tidak pernah menerima keberadaannya, suatu hari ketika Putri Syafira sedang mandi di pendopo Kerajaan, Permaisuri datang padanya.
“Kau disini rupanya Syafira.” Tutur katanya halus, tapi masih terlihat keterpaksaannya.
“Iya bunda mari kita mandi bersama.” Syafira mencoba mengajak Permaisuri.
“Mandi denganmu? Maaf saja ya!” terlihat jelas semua yang tersimpan di hatinya “mandi dengan wanita yang wajahnya di penuhi dengan goresan luka, tidak akan!” Syafira merasa untuk yang pertama kali dihina di Kerajaan Sinagablu, oleh seorang Permaisuri, oleh ibunda orang yang menyelamatkannya dari maut, Syafira sakit hati, ia keluar dari kolam pemandian, sang Permaisuri merasa menang.
“Alangkah lebih baik jika kau segera pergi dari Kerajaan ini Syafira.”
“Baiklah ibunda, kalau itu adalah ke inginanmu, hari ini juga aku akan pergi.” Syafira memakai kembali semua pakaiannya setelah itu ia berlari keluar dari istana, ia pergi dan takkan kembali lagi, ia pergi tanpa membawa apa-apa.
   Tak lama setelah kejadian itu, pengusiran sang Putri Syafira oleh Ratna Seruni sang Permaisuri Raja Sinagablu, Pangeran Bayuwardana baru kembali dari perburuannya. Ia langsung mencari sang Putri, ia menuju kamarnya.
“Putri... lihat apa yang Pangeran bawa untukmu.” Namun di kamar Putri sudah tak berpenghuni, Putri sudah pergi, Pangeran masih mencarinya, terus mencari, tapi pencariannya tak ada hasil, akhirnya ia mencoba bertanya pada penghuni istana, masih belum di temukan, mereka semua yang di tanya oleh Pangeran Bayuwardana hanya menjawab, ‘aku tidak melihatnya Pangeran’ akhirnya ia menemui ibundanya.
“Ibu, ibu tau di mana Putri Syafira?”
“Syafira? Ibunda tadi melihat ia pergi keluar dari istana, mungkin ia sedang ke hutan tempat tinggalnya.”
“Maksud ibunda?” Pangeran tidak mengerti dengan ucapan ibundanya.
“Sudahlah Pangeran Bayuwardana! Kau adalah anak Raja, Syafira itu siapa sih? Dia itu hanya seorang wanita yang bermuka cacat, masih banyak wanita lain di Kerajaan ini yang siap menjadi pendampingmu anakku.” Pangeran Bayuwardana mengerti dengan pembicaraan ibundanya, ia benar-benar marah kali ini, ia sadar ia telah jatuh cinta pada sang Putri, saat inilah saat yang selama ini ia tunggu, merasakan betapa nikmatnya menjadi manusia yang dapat merasakan jatuh cinta, menyayangi orang yang benar-benar ia sayangi, mencintai orang yang bener-bener ia cintai, mengasihi seseorang dengan perasaan kasih sayang, tanpa mengharapkan apa-apa, tanpa keinginan apa-apa, kecuali keinginan untuk di sayangi, di cintai, dan di kasihi, seperti ia mencintai, menyangi, mengasihi orang itu. Dan kini cinta sucinya telah ternoda oleh ibundanya sendiri, kemarahan itu sekarang sudah menguasai diri Pangeran, perlahan, tubuh Pangeran menggigil.
“Apa hak ibunda mengatur aku?” ibunda terkejut begitu suara Pangeran menggelegar di dalam istana, Permaisuri melihat wujud anaknya berubah menjadi sesosok makhluk yang belum pernah ia lihat, sesosok manusia yang berkepala dan bercakar srigala “ini hidupku, ini cintaku, ini pengorbananku, kenapa ibunda?” Emosi Pangeran sekarang sudah tak terkontrol, tangan Pangeran yang sudah berubah menjadi cakar srigala seperti bergerak sendiri, tangan itu melayang mengarah ke wajah ibundanya, sang Permaisuri Kerajaan, sekarang tak ada bedanya antara wajah Permaisuri dengan wajah sang Putri, keduanya memiliki luka di wajahnya. Pangeran tidak menyadari apa yang baru saja ia lakukan kepada ibundanya, begitu ia menyadarinya, ia sudah kembali ke wujud aslinya, Pangeran Bayuwardana…
“Apa yang telah aku lakukan?” ia melihat tubuh ibundanya terkapar di depan matanya tak sadarkan diri, ia panik, ia keluar dari kamar ibunda dengan tangan di penuhi oleh darah segar, tak lama setelah itu dayang sang Permaisuri masuk kamar,...
“Permaisuri…” dayang itu berteriak sangat ketakutan, semua orang menuju ke kamar Permasuri.
“Tangkap Pangeran Bayuwardana!” perintah Raja  Syahro begitu melihat keadaan Permaisuri, Pangeran sendiri sudah berada di depan pintu gerbang, penjaga gerbang langsung menutup pintu gerbang dan menghadang Pangeran Bayuwardana. Dalam sekejap sudah banyak prajurit yang mengepung dirinya. Perkelahian pun tak terelakkan, Pangeran Bayuwardana memang sudah mempunyai dasar beladiri, ia berguru pada Panglima Ishkaria, jadi baginya sangatlah mudah untuk melawan beberapa prajurit saja, sepuluh, duapuluh, tigapuluh, dengan mudah Pangeran melumpuhkan para prajurit, namun semakin lama ia melawan para prajurit, prajurit itu semakin membengkak jumlahnya, kini yang mengepungnya sudah lebih dari lima ratus prajurit, Panglima Ishkaria tak tega melihat anak didik sekaligus pengerannya di kepung oleh begitu banyak prajurit, akhirnya ia pun ikut turun tangan, ia membantu mengeluarkan Pangeran dari kepungan para prajurit.
“Pangeran cepat kau lari, pergi ke tempat biasa kita berlatih.”
“Paman sendiri bagaimana?”
“Aku nanti menyusul, cepat kau pergi.” Dengan cepat Pangeran meninggalkan Panglima Ishkaria yang masih menghadang para prajurit dengan sebilah pedangnya. Begitu Panglima melihat Pangeran sudah jauh dari Kerajaan, kini giliran dia ikut melarikan diri. Sedangkan penasihat Aryawira tak tampak di Kerajaan saat ini, entah di mana si Penasehat itu berada sekarang.
Dalam usahanya melarikan diri menyusul Pangeran yang sudah aman berada jauh dari Kerajaan Sinagablu, Panglima Ishkaria terluka parah terkena tombak prajutit di punggung sebelah kiri.
***
Di tempat yang jauh, di tempat yang aman, di tempat yang tak ada prajurit mengejarnya, Pangeran Bayuwardana sedang merenungi semua yang telah terjadi, semua yang baru saja di alaminya, ia telah melukai wajah ibundanya, seorang yang telah melahirkannya, seorang yang ia sayangi, tapi lebih tidak dia mengerti mengapa ibunya tega mengusir Putri Syafira, orang yang pertama kali mengenalkan cinta padanya, cinta yang nyata, cinta yang bener-bener ada, melekat di hatinya, ada lagi yang sangat ia tidak mengerti, kenapa jika emosinya meluap, ia tak dapat mengendalikan diri, seperti ada orang lain yang merasuk ke dalam dirinya, hingga kini ia terus memikirkan hal itu.
Perlahan ia membuka gulungan kulit rusa yang sudah kering yang ia ambil dari rumah pohon yang ada persis di atasnya, karna sekarang ia berada di bawah pohon yang sangat besar, ia melihat kembali gambar yang sudah ia gambar di atas kulit rusa kering itu, gambar sesosok kuda putih bersayap, ia ciptakan gambar itu ketika ia benar-benar sedang memikirkan Putri Syafira, yang tadinya ia ingin tunjukkan gambar itu kepadanya sekaligus ia ingin mengutarakan rasa cintanya kepada Putri, tetapi ternyata ibundanya telah mengusirnya dari istana, sekarang ia tak tau di mana sang pujaan hatinya berada. Begitu ia mengingat Syafira amarahnya kembali menguasainya, ia mengambil kulit rusa kering yang lain yang masih belum ada isinya, lalu ia menggambar sesosok manusia yang berkepala srigala dan bercakar persis seperti wujudnya ketika menyerang ibundanya, Ratna Seruni sang Permaisuri Raja, begitu ia melihat seekor rusa di dekatnya, gambar yang berada di kulit rusa kering itu segera lepas dari tempatnya, dan meresap ke tubuh rusa itu, rusa itu pun dengan segera berubah wujud seperti yang ada di gambar kulit rusa kering tadi.
@###@

Jumat, 10 April 2015

4. Wujud Kota lain



4.Wujud Kota lain
Perlahan Pegazus yang sekarang memiliki nama Putri, sudah tak lagi manginjakkan kakinya di atas bumi, kini ia benar-benar melayang, mengepakan sayapnya yang lebar, terus menembus udara malam di atas Kota Gandsai, Pegazus itu membawa Tanca mengarungi angkasa. Dhogle yang sedang asik nogkrong di atas genteng rumahnya, terkejut begitu melihat ada cahaya yang dari bawah terus menuju ke angkasa.
“Kok aneh sih, seharusnya kalau itu bener bintang jatuh kan dari langit menuju bumi, ini kok dari bumi ke langit?” di sebabkan karna ia melihat cahaya yang menurutnya tidak masuk akal itu, ia lupa sejenak pada orang yang terus ada di ingatannya.
“Tapi apa kalau aku memohon, permohonanku kan di kabulkan ya? Kan biasanya kalau ada bintang jatuh orang-orang pada memohon sesuatu, dan permohonannya di kabulkan, tapi ini kan bintang yang terbang, bukan bintang yang jatuh, kan dia arahnya ke atas?” ia masih sibuk memikirkan bintang terbang, atau bintang jatuh.
“Alangkah baiknya, jika aku memohonnya juga terbalik, begini kali ya memohonnya? Aku mau memohon apa ya? kalau harapanku sih suatu saat Saphina bisa menerima cintaku, meskipun aku tau Saphina tidak akan pernah mau menerima aku apa adanya, terus gimana dong?” yah ujungnya Saphina lagi, Saphina lagi, tak lama kemudian akhirnya Dhogle berhasil memfokuskan diri untuk memohon sesuatu pada bintang terbang, ada-ada saja si Dhogle. ‘kalau memang Saphina tu bener-bener benci sama aku, ya sudah aku juga benci deh sama dia.’ Kok gitu sih permohonannya, “bener tidak ya, permohonanku, kalo aslinya sih aku tidak akan pernah membenci Saphina walau sebenci apapun Saphina pada ku, bahkan untuk mendapatkan hatinya aku siap terjun dari ketinggian.” wah Dhogle serius tidak ya dengan kata-katanya, perlahan ia bangkit, ia berjalan perlahan, niatnya sih ia ingin turun, mungkin dia sudah mulai bosan duduk di atap rumahnya.
“E…e…e…” Dhogle terpeleset di atap rumahnya, meluncur seperti main sky di salju, jatuh tidak ya? Tidak! Dia Pegangan, ia masih nyangkut di genteng, bergelantungan, persis seperti orang yang hidupnya di hutan, alias orang hutan.
“Tolong… tolongin aku…aku masih belum siap mati”
Dhogle merengek minta tolong, ayahnya dan ibunya dan ke tiga adiknya sepontan keluar melihat kejadian langka itu.
“Kau sedang apa Gle? Kau nekat amat sih, ntar kalau kau jatuhkan kau bisa mati.” Ayahnya yang selau meledeknya kembali meledeknya lagi, kali ini memang Dhogle membuat orang-orang mentertawakannya.
“Makanya sekarang ayah cari tangga buat nolongin aku biar tidak mati, apa ayah mau membiarkan anak ayah yang lucu ini mati sebelum ayah mati?” dasar anak nyleneh, pasti dalam fikiran ayahnya Dhogle seperti itu.
“Ya sudah tunggu sebentar, ayah mau mencari tangga dulu, jangan kemana-mana!” ayah Dhogle pergi begitu saja tanpa melihat anaknya yang sudah berusaha setengah hidup untuk bertahan tetap bergelayutan, jangan sampai jatuh.
“Aaaaaa………ghugugh.” Dhogle sudah mendarat darurat di tanah depan rumahnya, ayahnya langsung mendekati anaknya yang sekarang sudah dalam posisi terlentang tak bergerak, kaku seperti patung, ibunya bukan menolong malah mentertawakannya, lain dengan ke tiga saudaranya, mereka bukan menolong atau mentertawakannya, tetapi mereka justru berlomba siapa yang bisa tertawa ngakak paling lama.
“Kan ayah sudah bilang, jangan kemana-mana.” Ayah Dhogle langsung mengangkat anak pertamanya itu, Dhogle masih saja menahan sakit di sekujur tubuhnya, itu lah akibat dari patah hati, lalu mencoba untuk menyembuhkan dengan cara menghibur diri, tapi sepertinya Dhogle salah cara menghibur dirinya, akhirnya patah tulang deh.
***
Jauh di rumah Phitaloka, ia juga sama sedang mencoba meghibur diri, karna baru saja ia memutuskan kekasih barunya yang baru beberapa hari, sama seperti Dhogle juga, ia merasa terkejut begitu ia melihat ada cahaya yang dari bawah menuju ke atas. Ia juga berfikiran sama seperti yang di fikirkan oleh Dhogle. Seperti bintang jatuh tapi kenapa bintang itu menuju ke angkasa? Phitaloka tidak begitu focus pada sesuatu yang seperti bintang jatuh itu, tapi ia masih berfikir, bagaimana caranya untuk minta maaf pada Tanca, orang yang pernah ia cintai, yang kini telah ia sakiti, ia telah meng hancurkan seluruh isi hatinya, selain ia telah memutuskannya secara sepihak, ia juga sudah salah nilai tentang dirinya, semua gara-gara Erwinsyah yang telah membohonginya, sekarang ia bener-bener bingung harus bagai mana, gengsi dong kalau dia harus minta maaf duluan kalau memang Tanca masih mencintainya ia harusnya datang padanya lalu meminta maaf sama dia.
***
Lain dengan Tanca yang sekarang sedang merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, semua yang ia impikan selama ini telah menjadi nyata, ia sekarang benar-benar berada di atas Kota lain, Kota yang pernah di ceritakan oleh Gunawan kepadanya, Kota yang pernah ia ceritakan pada semua orang di Kota Gandsai, Kota yang tak pernah di percayai keberadaanya oleh semua orang Gandsai. Kini tak ada lagi yang berhak untuk mencemoohnya, karna ia sudah memegang semua buktinya.
Tanca melihat segala sesuatu yang belum pernah ia lihat, di Kota ini ia melihat ada sebuah bangunan yang tinggi, bukan sebuah, tapi banyak sekali, dari semua bangunan yang ia lihat, kesemuanya di penuhi oleh cahaya, di luar gedung pun banyak cahaya yang berkeliaran, ia seperti melihat bintang di atas bumi, yang ia kira sebelumnya bumi….ya Kota Gandsai itu, tapi kini ia sungguh tidak sedang bermimpi, ini sungguhan ia berada di atas Kota yang selama ini hanya ada di benaknya saja, mungkin selama ia hidup, kali inilah ia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, sampai-sampai ia tak merasakan sakit akibat selangkangan kakinya lecet semua, karna memang sebelumnya ia tidak pernah naik Pegazus, jadi begitu ia naik, ia harus mencengkram punggung Pegazus itu, supaya ia tetap berada di atas Pegazus, kalau tidak, ia akan terjatuh dan mungkin akan lebih parah dari Dhogle yang sekarang ia masih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, karna ia jatuh dari atap rumahnya, nah kalo jatuhnya dari atas Pegazus yang sedang tebang, bagai mana jadinya?
“Nguuueeeeng” sebuah benda besar, besar sekali hampir menabrak Tanca dan Pegazus yang ia tunggangi, hampir saja Tanca jatuh dari punggung Pegazus.
“Benda apaan tuh?” Tanca memang tidak tau benda apa itu, bentuknya seperti burung, tapi mana ada burung sebesar itu, entahlah, yang jelas dari dalam benda itu keluar cahaya, di dalamnya terdapat banyak orang. Jauh di daratan sana Tanca melihat ada banyak benda yang berjalan teratur, tertib meskipun banyak, benda itu tetap dalam jalurnya, bila benda yang terdepan berhenti maka benda yang lain ikut berhenti, masing-masing benda itu memiliki dua cahaya yang keluar dari dua sisinya, kanan dan kiri, semua mengarah ke depan, menerangi jalan yang akan di tempuhnya, sungguh indah. Ada lagi benda yang lebih kecil, benda itu bisa nyelip-nyelip di antara benda yang besar, dan benda itu hanya mengeluarkan satu cahaya saja.
Pegazus itu terus membawa Tanca ke arah utara, sampailah ia dan sang Kuda Putih bersayap itu di sebuah danau, tapi danaunya sangat luas, bahkan sangat amat luas, tak terlihat seberapa luas danau itu, di sini pun ada benda yang sangat besar, lebih besar dari benda yang ada di daratan, juga lebih besar dari benda yang hampir menjatuhkan Tanca dari Pegazus, tapi benda ini dapat mengapung di air, dan benda ini bukanlah ikan, di dalam benda itu terlihat banyak orangnya, lagi-lagi dari dalam benda besar itu mengeluarkan cahaya, cahaya ada di mana-mana, setiap benda yang besar, yang terus mengapung, yang terus melaju, pasti mengeluarkan cahaya, dan itu tidak sedikit, tapi tak ada yang saling berebut, seperti juga benda-benda yang ada di daratan, benda itu tertib, beratur, tak ada yang tabrakan. Ada yang janggal dari semua yang ia lihat di Kota ini, Tanca tak pernah sekalipun melihat api selama ia berada di Kota lain ini, Kota yang sampai sekarang Tanca pun tak tau namanya, andaikan saja, Kuda Putih bersayap ini dapat berbicara, pasti Tanca sudah asik terus bertanya pada Kuda itu, apa saja yang tidak ia mengerti, dan yang ia tidak ketahui, tapi Pegazus itu masih tetap membisu, ia hanya terus terbang, tanpa memperdulikan semua pertanyaan-pertanyaan Tanca, yang terus menumpuk di dalam benaknya. Apa ini apa itu, kenapa begini kenapa begitu, bagaimana ini terjadi, bagaimana itu terjadi, dan masih terus ia bertanya, tanpa ada jawabanya.
Kini yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya membuat orang-orang Kota Gandsai mempercayai apa yang sekarang ia lihat, bila nanti ia sampai lagi ke Kota tempat ia lahir, karna ia tau, orang Gandsai pasti tak akan ada yang percaya kepadanya.
Tanca sendiri tak pernah menyangka, bila ia akhirnya akan menemukan Kota lain yang selama ini hanya ada di benaknya saja. Lama sekali Pegazus itu membawa Tanca berkeliling-keliling Kota lain, hingga Tanca kini benar-benar merasa lapar, staminanya pun berkurang, rasa perih di selangkangan Tanca pun semakin terasa, Kuda Putih bersayap itu pun akhirnya sedikit ke permukaan bumi, entah kenapa Pegazus itu seperti bingung, mungkin karna ia tak tau jalan pulang ke Kota Gandsai, atau… entahlah, Sepertinya Tanca sekarang sudah tak kuat lagi untuk duduk tegak di atas punggung Pegazus, ia memang sudah sangat kelelahan, ia memeluk erat tubuh Kuda Putih bersayap itu.
“Putri ayo kita pulang, aku sudah tidak kuat lagi!” Tanca sambil merengek, ia memejapkan matanya, tak lama setelah itu Tanca benar-benar tertidur di atas punggung Pegazus, Pegazus itu pun akhirnya sampai di daratan bumi. Sebuah daratan yang di  kelilingi oleh garis-garis, dan garis itu sebenarnya adalah sungai yang mengelilingi kota Gandsai, yang bila di lihat dari atas daratan, seperti sebuah lukisan yang berbentuk kuda yang memiliki sayap, di samping lukisan itu terdapat juga daratan yang berbentuk lukisan srigala, entah daratan apa itu, tapi Pegazus itu menuju daratan yang berbentuk lukisan kuda bersayap, Ia mendarat tepat di depan rumah Tanca, akhirnya Tanca sampai rumah lagi setelah ia mengelilingi angkasa kota lain, Kota yang penuh dengan bangunan-bangunan besar dan tinggi, yang di penuhi dengan cahaya yang bukan cahaya dari api, entah cahaya apa itu, cahaya yang lebih terang dari api, tapi tiba-tiba mereka sudah berada di Kota Gandsai, yang tau misteri ini saat ini adalah Putri, Sang Kuda Putih bersayap alias sang Pegazus, entah kenapa Kuda Putih bersayap yang sebenarnya adalah seorang Putri itu tak bisa berbicara dengan Tanca, padahal sebenarnya Pegazus itu bisa berbicara, seperti waktu ia berbicara dengan Gondho, orang bercadar pemimpin di Bukit Sinagablu.
   Akhirnya pagi sudah tiba, Tanca mencoba membuka mata, ia masih berada di atas punggung Pegazus yang juga sedang tertidur di atas ranjang tidurnya. Begitu ia benar-benar sadar ia terkejut, ternyata ia memang tidak bermimpi naik seekor Kuda bersayap mengelilingi Kota lain, ia baru merasakan perihnya selangkangan yang sudah lecet dari semalam, setelah ia berusaha untuk menggerakan tubuhnya, si Putri, Pegazus itu pun ikut bangun ia membenarkan sayap-sayapnya yang sedikit lusuh.
“Eh…Putri juga sudah bangun ya?” sambil ia menahan sakit ia menyapa teman barunya yang berbentuk binatang langka seekor Kuda tapi ia mempunyai sayap. Pegazus itu tau kalau Tanca sedang menahan sakit, sang Pegazus itu pun dengan tanpa sepengetahuan dari Tanca mengeluarkan semacam cahaya dari tubuhnya, cahaya itu menyerap ke luka-luka Tanca, seketika Tanca merasa semua luka-lukanya makin sakit.
“Kenapa ini, kok lukaku makin sakit?” Tanca masih bisa menahan rasa sakit ini, tapi lama-lama rasa perih itu seperti meronta-ronta, perih itu memaksa Tanca untuk berteriak “Perih…” selesai ia menjerit, ia melihat keadaan luka yang ia derita, tak ada luka lagi, persis sama kejadiannya ketika luka di dadanya secara ajaib menghilang begitu saja.
Dari dapur, ibu Rahayu, yaitu ibunya Tanca sudah siap dengan semua makanannya, nasi, sayuran, lauk, dan buah-buahan.
“Kau kenapa sih Tanca? Pagi-pagi begini udah ribut sendiri, apanya yang perih? Biar ibu obatin sini.”
“Tidak bu, sudah sembuh kok” Tanca terus melihat ibunya lalu melihat ke Putri, teman barunya. “Ibu melihat ada makhluk lain di ruangan ini apa tidak bu?”
“Maksud Tanca?” ibu Rahayu tidak memahami pertanyaan Tanca.
“Ya, sejenis Kuda, tapi dia mempunyai sayap…” Tanca bingung menjelaskannya.
“Maksud Tanca Pegazus?”
“Bener bu, Pegazus!” Tanca langsung bersemangat begitu Tanca mendengar kata Pegazus keluar dari mulut ibunya.
“Tidak tuh, memangnya makhluk itu bener ada? Nah kau tau dari mana nama Pegazus itu?”
“…” Tanca jadi bingung menjelaskan pada ibunya, justru Tanca balik tanya “Ibu sendiri tau dari siapa nama itu, Tanca kan tau dari ibu.”
“Kapan ibu ngomongnya?”
“Baru saja ibu ngomong tentang Pegazus.” Tanca melihat Putri bergerak ia pergi ke dapur.
“Eh mau kemana?”
“Tidak kemana-mana kok, ibu justru ingin cerita ke Tanca tentang Pegazus itu.” Putri terus jalan ke dapur, ibunya tak dapat melihatnya, dan memang tak ada yang bisa melihat kecuali Tanca seorang.
Ibunya duduk di samping Tanca di atas ranjangnya.
“Dulu sebelum kau lahir, sebelum ibu mengandung kau, dan sebelum ibu bertemu dengan ayahmu, dan sebelum ibu menjadi seorang wanita dewasa….”
Seorang anak perempuan berusia lima tahun, sedang tidur di pelukan ibunya, ibu dari anak itu terlihat panik, karna ayah dari anak yang ia gendong lama tak pulang-pulang, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka, ayah dari anak itu sudah kembali dengan ke adaan yang lebih panik.
“Ibu, gawat bu…”
“Kenapa yah?”
“Ayah bertemu dengan Pegazus…” anak perempuan yang sedang tidur itu terbangun.
“Rahayu,…” ia lekas mengambil anaknya dari gendongan ibunya.
“Ayah sudah bertemu dengan makhluk itu, makhluk itu lebih cantik dari apapun Yu, wujudnya seperti Kuda, tapi Kuda itu memiliki sayap, luar biasa indahnya.” Ayah dari anak bernama Rahayu itu menceritakan wujud Pegazus yang baru ia temui.
“Tapi…” manusia yang bertubuh mirip sekali dengan Tanca itu  menunjukan wajah kecewanya.
“Tapi kenapa ayah?”
“Pegazus itu perlu pertolongan ayah, ayah harus pergi, ayah harus menolong Pegazus itu.”
“Rahayu ikut..!” anak itu merengek “Rahayu ingin melihat Pegazus.”
“Tidak Rahayu, ini sangat berbahaya, Rahayu di rumah saja dengan ibu ya! Ayah janji, ayah pasti akan kembali.”
“Ayah…Rahayu tidak mau. Rahayu mau ikut, ayah… Rahayu ikut.” Anak itu terus menangis, tapi ayahnya memberikan Rahayu kembali pada ibunya, ayahnya memeluk erat ibu dan anak itu sekaligus, Rahayu masih tetap menangis.
“Jaga Rahayu ya bu, ayah janji, ayah akan kembali, ayah akan menemui kalian kembali” dengan berat hati ayah Rahayu melepas pelukannya, perlahan ia menjauh dari ke dua orang yang ia kasihi, lalu kemudian pergi.
“Kakek mu tak pernah kembali lagi, dua tahun setelah itu nenekmu meninggal dunia karna terus memikirkan kakekmu, segalanya ibu lakukan untuk menyambung hidup, hingga akhirnya ibu bertemu ayahmu.”
@###@

Kamis, 26 Maret 2015

3. Kuda Putih bersayap Patah



3.Kuda Putih bersayap patah
Dhogle masih asik dengan bulu angsa dan kulit rusanya, ia sedang menulis sesuatu di kulit rusa yang kering itu.
“Untuk: yang aku cintai.
Siapa lah aku dan siapa juga kau.
Apalah guna aku jujur padamu,
Jika kau tak jujur padaku,
Sungguh aku tak mampu tuk ungkap rasa
Yang terus menyiksa dalam hatiku,
Andai kau tahu,
Cobalah kau mengerti isi hatiku ini,
Selamanya mungkin ku tak akan pernah
mendapatkanmu,
Kasih, sungguh aku sangat mencintaimu,
Lalu apa yang harus aku perbuat untuk
 meyakinkanmu?
Dari: yang mencintaimu.”
“Dog-dog-dog” pintu kamar Dhogle ada yang mengetuk, kini Dhogle sudah tinggal di rumahnya sendiri. Hubungan antara orang tua Tanca dan Dhogle sudah membaik, semenjak tragedi terlukanya Tanca di dalam Bukit sinagablu orang tua Dhogle merasa tersentuh dengan hubungan antara anaknya dan orang yang di cemooh oleh semua orang Gandsai.
“Masuk saja! Tidak di kunci.” Ternyata Tanca, Dhogle melirik, mencari tau siapa yang datang, begitu tau Tanca yang datang ia cuek saja. Tanca ngerti sahabatnya pasti masih marah padanya.
“Aku minta maaf Gle, aku tau kau masih marah padaku…”
“Apa alasanya aku marah padamu?”
“Kau marah sama aku kan, karna aku kemaren melerai kau berantem sama…” Tanca tidak tau nama pria yang di hajar Dhogle kemaren.
“Erwin, bukan itu masalahnya Ca, aku marah karna kau sudah beda Ca, kau terlalu cepat putus asa, bahkan kau percaya dengan semua karangan ceritaku.” Tanca tidak mengerti dari semua omongan Dhogle baru saja.
“Maksud mu…”
“Kau percaya kan kalau yang menolongmu sewaktu di Bukit Sinagablu adalah aku? Kau salah Ca! Aku sendiri tidak pernah tau apa yang telah menyerangmu, dan aku juga tidak tau siapa yang menolongmu.”
“Sebentar Gle,…maksud mu,…Erwin itu yang kau hajar kemaren?” Tanca masih terlihat bingung.
“Iya,…memangnya kenapa Ca?” Dhogle juga ikut bingung. Sekarang kedua-duanya jadi sama-sama bingung, mereka lupa bahwa sebenarnya mereka itu sedang berantem.
“Berarti yang di maksud oleh Phitaloka itu,…ya Erwin yang kau hajar kemaren Gle!”
“Maksudnya?” Dhogle masih belum mengerti.
“Jadi begini Gle, kemaren…” Tanca menceritakan semua yang menimpa dirinya pada Dhogle, Dhogle langsung ikut geram juga mendengar cerita Tanca.
“Kurangajar tu anak, berarti dia emang sengaja ngadu kau dengan Phitaloka Ca, tidak bisa di biarkan, kita harus bikin perhitungan sama Erwin Ca.” Dengan cepat Dhogle pergi mencari Erwin berada. Tanca mencoba mencegah Dhogle.
“Gle, kau mau kemana? Santai Gle, jangan cepet emosi seperti itu.” Tapi usaha Tanca sia-sia. Ia sudah pergi, dan ia tidak akan kembali sebelum menemukan Erwin.
***
Satu hari penuh Dhogle mencari Erwin, tapi ia tidak melihat Erwin sama sekali, mungkin Erwin sedang bersembunyi di lubang semut sekarang, tapi Dhogle pantang menyerah, Dhogle terus mencarinya meskipun Tanca juga terus berjuang tuk meredam emosinya.
“Sudahlah Gle, kau tidak usah mencarinya lagi.”
“Tidak Ca, dia sudah membuat aku marah padamu, dia juga sudah membuat kau sakit hati.”
“Berarti sekarang kita sudah baikan nih?” Dhogle berhenti sewot, keduanya terdiam, dalam beberapa saat mereka tak bersuara, tiba-tiba orang yang di cari datang, jadi Dhogle tidak perlu mencarinya lagi, langsung saja tanpa basa-basi Dhogle mendekatinya…
“Jebreth” oh belum, ternyata Tanca keduluan memegang tangan Dhogle yang sudah mengepal dengan penuh emosi, siap menghujamkan tinjunya.
“Biar aku yang bicara dengan Erwin!” tampang Tanca serius, membuat Dhogle terpaksa mengurungkan niatnya. Tanca mendekati Erwin yang sudah ketar-ketir, menghadapi dua orang yang sangat di kenal oleh semua orang di kota Gandsai ini.
“Rupanya kau kekasih barunya Phitaloka?”
“Iya, aku kekasih Phitaloka, kenapa?” Erwin ketakutan.
“Kau kenal dengan aku?”
“Iya, aku kenal kau, kau Tanca yang sering membuat cerita bohong kan?”
“Iya kau benar, aku Tanca, kau juga tau kan, kalau aku mantan kekasih Phitaloka.” Tanca mencoba bersabar, “Lalu apa yang sudah kau ceritakan kepada mantan kekasihku itu, tentang luka memar di wajahmu itu?” Tanca menekan nada bicaranya lebih tinggi lagi. Erwin tak bisa menjawab.
“Aku tidak menyentuh kau sedikitpun, tapi kau bilang pada Phitaloka, bahwa aku telah memusuhimu, aku telah menganiaya kau. Dan satu lagi, aku tidak pernah berbohong pada siapa pun, kau lah si pembohong besar itu.” Tanca meninggalkan Erwin sendiri, Dhogle mengikuti Tanca dari blakang, Dhogle berang ingin menghajar Erwin tuk kedua kalinya.
“Kenapa tidak di hajar saja Ca?”
“Tidak perlu memakai kekerasan juga selesaikan?”
“Iya sih, tapi aku tidak puas nih.” Sepanjang perjalanan pulang Dhogle terus saja mengeluh, tapi Tanca tidak menghiraukan protes dari Dhogle, ia terus berjalan pulang.
***
Sekarang Tanca sudah tau semuanya, dari mulai tentang sesuatu yang telah menolongnya, tentang yang menerkam dirinya hingga ia tak sadarkan diri sampai hampir satu bulan, tentang cerita Dhogle yang menyimpan semua kebenaran dari orang-orang kota Gandsai, sampai tentang isi hati Dhogle yang terus saja menyimpan harapan tuk mendapatkan cinta Saphina.
Ia mulai membuka kembali busur dan anak panahnya yang sudah lama ia simpan, tapi ada yang terlupakan oleh Tanca, ia ingin menemani Dhogle menemui Saphina di rumahnya, ini untuk yang ke sekian kalinya Dhogle berencana merebut hati Saphina. Sesampainya Tanca di rumah Dhogle, mereka langsung pergi ke rumah Saphina. Dalam perjalanan Tanca terus memberi semangat pada Dhogle, memberikan jurus-jurus memikat seorang wanita. Meski sekarang Tanca sendiri sudah tidak memiliki wanita, yang artinya ia sudah kembali sendiri, tanpa kekasih, tanpa orang istimewa di hatinya, orang yang sangat ia kasihi sudah menghancur leburkan isi hatinya, entah ia masih dapat kembali jatuh cinta atau tidak, hanya hatinyalah yang dapat menjawabnya.
Seorang wanita nampak di hadapan mereka, bukan lain, wanita itu adalah Saphina, entah ia sedang jalan dengan siapa, yang jelas dengan seorang pria, Saphina terkejut begitu melihat Dhogle, ia lekas memegang erat tangan pria itu. Dhogle pun sama, hatinya begitu hancur, apa yang semua direncanakanya sudah tak ada gunanya, semua semangat dan jurus yang di berikan oleh sahabatnya tak ada artinya sama sekali. Tanca pun tak dapat berbuat apa-apa tuk mengembalikan keceriaannya. Dhogle terus melihat kepergian Saphina dengan seorang pria yang mungkin adalah kekasih Saphina. Dari jauh Saphina masih mencuri pandang ke Dhogle.
“Kita pulang?” ajak Tanca dengan suara paling halus.
Dhogle ikut saja dengan apa yang Tanca suruh. Kini mereka kembali berjalan pulang, Dhogle benar-benar kalah sebelum berperang, bagaikan seorang tentara yang baru saja pulang dari perang, dan yang selamat tinggalah dirinya seorang, dari beribu-ribu tentara yang berperang, sungguh nahas nasibnya, mungkin dalam fikirnya ‘kenapa tidak sekalian saja aku yang mati’ itu bisa saja terjadi, bila mana Tanca tak ada di sampingnya saat itu, itulah gunanya seorang teman, seorang sadaura, seorang sahabat sejati, bahkan ia lebih setia dari seorang kekasih sekalipun.
Tanca langsung menuju kamarnya begitu sampai di rumahnya, hari sudah mulai gelap, malam segera akan menggantikan siang, ia melanjutkan membuka kembali busur dan anak panahnya yang sudah ada di atas ranjangnya, yang ia tinggalkan sebelum ia menemani sahabatnya tuk menemui wanita pujaannya, yang kemudian gagal total, yang berakhir dengan kehancuran hati Dhogle, sahabatnya. Ia menumpahkan isi anak panahnya yang masih ada, di atas ranjangnya, ia terkejut sekali ketika melihat sehelai bulu angsa yang ukuranya sama dengan tinggi tubuhnya, terhambur bersama anak panahnya.
“Bulu angsa?” Tanya Tanca tak percaya dengan ukurannya.
“Sebesar apa angsa yang punya bulu ini?” Tanca mengambil bulu itu dengan sedikit rasa takut, ia angkat perlahan, ringan, seperti bulu angsa yang lain, yang biasa untuk menulis di atas kulit rusa, tapi ini lebih berat sedikit, ia terus memandang bulu itu, ‘indah sekali’ gumam Tanca terus mengamati bulu angsa itu yang berwarna Putih, perlahan tubuhnya terasa panas, ia baru menyadarinya, bulu angsa itu mengeluarkan cahaya, bekas luka di dadanya terasa perih lagi, seperti ada yang keluar dari dadanya, memang benar darah merah kembali mengalir dari luka-luka Tanca yang sudah sembuh, Tanca merasakan perih sekali, seperti disayat-sayat dadanya, ia terus menahan rasa perih itu yang semakin perih, Tanca masih terus menahannya, bulu angsa Putih itu masih ia pertahankan agar tetap ada di tangannya, kini Tanca benar-benar tak dapat menahan rasa perih ini, ia berteriak semampu ia berteriak, bersamaan dengan teriakanya itu ia melepaskan bulu angsa yang ukurannya sama dengan tinggi tubuhnya, ia roboh di samping ranjangnya, anak panah berserakan di atas ranjangnya, kedua orang tuanya langsung memastikan ke adaan anak satu-satunya, dengan masuk ke kamarnya, mereka melihat sekilas ada cahaya di dalam kamar anaknya.
“Tanca, kau tidak apa-apa nak?” cemas ibunya dengen menolong Tanca bangun dari samping ranjangnya lalu memeluk Tanca, sedang Tanca masih mencoba menahan laju pernafasan nya supaya kembali seperti biasanya.
“Tidak bu,…” masih ia mencoba menenangkan dirinya, rasa perih yang baru saja ia rasakan sudah lenyap, sudah tidak lagi ia rasakan. “Tanca tidak apa-apa.” Tanca masih bingung.”bener bu, Tanca tidak apa-apa!” sambil ia meyakinkan ibunya, ia menggiring kedua orang tuanya keluar dari kamarnya, setelah berhasil ia mengelus dadanya, makin ia terkejut, tak ada rasa sakit sama sekali di bekas lukanya, ia setengah tidak percaya, ia buka baju yang ia kenakan, ‘hah…kemana luka-lukaku pergi?’ fikir dalam hatinya, ia mencoba mencari bulu angsa yang berukuran sama dengan tinggi tubuhnya,
“Hah…” kembali ia terkejut, karna di atas ranjangnya ada seekor Kuda Putih, tapi ia merasa aneh, karna Kuda itu memiliki sayap.
“Makhluk apa ini? Kuda kok punya sayap sih?” Kuda Putih bersayap  itu tetap diam, itu meredakan ketegangan Tanca.
“Hai…” Tanca mencoba menyapa si Kuda bersayap itu, tapi Kuda bersayap itu tetap diam, Tanca mencoba mendekati makhluk itu. Tanca melihat sayap makluk itu patah, ia juga baru sadar bulu yang tadi ia pegang sebenarnya adalah bulu dari sayap makhluk itu.
“Rupanya bulu yang tadi aku pegang itu bulumu?” sekarang Tanca mencoba berbicara dengan makhluk itu, tapi tetep saja makhluk yang mirip Kuda tapi ada sayapnya itu tak mau berbicara pada Tanca.
“Boleh aku pegang?” rupanya Tanca masih belum menyerah, tanpa jawaban dari yang ia tanya, ia menyentuh tubuh makhluk itu, tampak di kulit paha kanan kaki belakang makhluk itu tertulis ‘Pegazus’.
“Oh…jadi kau punya nama?” masih tetap makhluk itu tak mau menjawab setiap pertanyaan Tanca, Tanca jadi lupa kalau semua bekas luka yang ada di tubuhnya sudah tak tersisa dari tubuhnya, begitu ia meliahat luka parah sayap makhluk itu ia baru menyadarinya.
“Kau terluka,…” ia bingung menyebut makhluk itu.
“Aku bingung mau sebut kau apa, aku kasih kau nam saja ya? kau jantan apa betina sih?” ia mencoba melihat jenis kelamin makhluk di depanya itu, ternyata betina,“Kalau Putri, bagai mana?” masih tetap Pegazus itu tak bergeming, tapi Kuda bersayap patah itu tetap terus mamperhatikan Tanca.
“Jadi kita sama dong, kau terluka aku juga terluka, nih lhat!” ia melihat dadanya tak ada luka lagi.
“Kok tidak ada?, tadi ada kok, aneh?!” Tanca penasaran ingin melihat dengaan dekat luka Pegazus itu,
“Sakit?” ia ingin menyentuh luka itu, Kuda itu baru bergerak.
“Coba aku pegang ya!” Kuda bersayap patah itu mencoba tenang, sebelum tangan Tanca menyentuh luka itu, tangan Tanca mengeluarkan cahaya, sang Pegazus seperti merasa kesakitan, akhirnya ia mengeluarkan ringikannya
“Hi..hi…hi…eeeee” begitu tangan Tanca menyentuk luka itu, luka itu langsung sembuh, Pegazus itu langsung bisa mengepakkan sayapnya kembali, Tanca melepas pegangannya, Pegazus itu terbang keluar menembus atap rumah Tanca. tanpa meruntuhkan atapnya.  Rumah di kota Gandsai sudah tidak seperti rumah zaman dulu, rata-rata rumah mereka sudah memakai genteng, walaupun sebagian rumah di kota Gandsai masih banyak yang menggunakan bambu. Tanca mengejar keluar dengan berlari melalui pintu-pintu yang ada, Pegazus itu terbang melejit tinggi di angkasa. Dengan sangat gembira Tanca berteriak
“Putriiiii…….” Orang tua Tanca jadi merasa aneh dengan kelakuan anaknya, Kuda Putih bersayap patah sudah sembuh, ia sudah dapat terbang lagi, ia merasa seperti baru hidup setelah sekian lama mati, ia mendarat tepat di depan Tanca, Tanca menyambutnya dengan senyuman lebar.
***
Di tempat berbeda Dhogle sahabat Tanca masih murung memikirkan kelakuan Saphina kepadanya, ia benar-benar sudah berhasil mengacak-acak seluruh isi hati Dhogle, hingga kini Dhogle juga masih berfikir keras, bagai mana caranya merebut hati Saphina dari tangan pria yang kemarin ia lihat jalan dengan Saphina yang ia duga adalah kekasihnya, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Dhogle ingin segera melupakan Saphina, entahlah Dhogle juga masih bingung sendiri, sebab sampai kini juga Dhogle masih berambisi tuk mendapatkan cinta si Bocah cantik itu. Sekarang posisi Dhogle adalah berada di atap rumahnya, ia terus memandang ke arah Langit yang begitu gelap, meski pun sesungguhnya malam ini penuh dengn bintang, mungkin Langit tau kalau satu makhluk yang sedang melihatnya kini sedang merasakan pahitnya cinta.
Di waktu yang sama juga Phitaloka dan kekasih barunya si Erwin sedang brantem, yang di permasalahkan adalah tentang luka memar yang sebenarnya luka itu ada karna tonjokan tangan Dhogle, bukan tonjokan tangan mantan kekasihnya.
“Kenapa kau mesti berbohong sama aku?”
“Aku…aku tidak pernah berbohong denganmu Phitaloka, aku selalu jujur!”
“Terus luka memar di mukamu itu sebenarnya bukan perbuatan Tanca kan?”
“…” Erwin mati kutu, ia tak tau harus ngomong apa lagi, karna memang itu adalah satu-satunya kesalahan Erwin.
“Aku jadi tidak enak hati sama Tanca Win, aku sudah marah-marah tidak jelas sama dia, itu semua karna kebohongan yang kau lakukan”
“Kok kau nyalahin aku?” Erwin tidak terima dirinya di jadikan kambing hitam
“Memang semua ini kesalahanmu, ternyata aku salah memilihmu jadi pengganti Tanca, ternyata kau jauh sekali dengan Tanca, aku menyesal, menyesal tau tidak Win?!!” kali ini Phitaloka benar-benar meluapkan amarahnya.
“Ya sudah sekarang kau kembali saja sama Tanca, si pembohong itu.”
“Baiklah!! Mulai sekarang tidak ada lagi hubungan antara kita.”
Tak ada reaksi apa-apa dari Erwinsyah, ia hanya terus menatap wajah Phitaloka yang juga sedang menatap wajah Erwin, mereka berdua memang sedang tatapan, tapi keduanya sama ngotot tidak mau di salahkan, dan dari kebanyakan peristiwa seperti ini akan mendapatkan akhir yang sama yaitu, bubaran, ternyata tatap-tatapanya di menang kan oleh Phitaloka, Erwin pergi tanpa pamit dari taman di depan rumahnya. Sekarng Phitaloka sendirian, sudah banyak orang bila sedang patah hati selalu mencurahkan perasaan hati pada sang Langit, memangnya apa sih yang bisa di minta dari Langit itu? Apakah setelah mengadu padanya semua masalah bisa terselesaikan, atau mungkin bisa terlupakan? Coba saja tanyakan pada Phitaloka yang sekarang sedang mengadu pada sang Langit. Tapi kok dia malah nangis, ‘Aku salah karna aku sudah melepas Tanca, yang jelas-jelas dia sayang sama aku, dia sangat mencintaiku, hanya karna dia ingin mencapai mimpinya aku melepaskannya, betapa sulitnya dulu aku mencoba merebut hatinya, kini dengan begitu mudahnyakah aku melepaskannya?’ ia terus saja mengadu pada sang Langit.
***
Di rumah Tanca, kedua orang tuanya masih belum menerima apa yang baru saja mereka saksikan, anaknya terlihat begitu gembira, walau apa pun yang terjadi pada anaknya, mereka tetap ikut bergembira saja, tanpa mereka tau apa yang sesungguhnya terjadi. Pegazus yang sudah di sembuhkan oleh Tanca tak dapat mereka lihat, yang dapat mereka lihat sekarang adalah senyuman lebar anaknya.
Tanca masih tersenyum mengelus kepala sang Kuda Putih bersayap, seperti mereka sudah saling mengenal lama, sang Pegazus merebahkan tubuhnya di depan Tanca, Tanca tau apa yang harus ia lakukan, dengan sigap Tanca naik ke atas punggung Pegazus, Tanca masih terlihat takut, tapi masih tetap tersenyum, Pegazus itu pun siap untuk kembli mengangkasa.
@###@