5.Pangeran Bayuwardana, Putra raja
Dengan serius Tanca mendengarkan cerita
dari ibunya, yang selama ini belum pernah ia dengarkan, tanpa ia sadari bahwa
makhluk yang berada di dalam perutnya sudah berteriak-teriak minta makan,
begitu Tanca menyadarinya, tanpa komando ia langsung melahap apel merah yang
ada di depannya, sambil ia terus mendengarkan cerita ibunya. Putri keluar dari
dapur dengan mulut penuh dengan sayuran yang masih segar membuat Tanca
terkejut.
“Putri…apa yang kau perbuat!” ibu Rahayu
yang sedang serius bercerita, terbelalak begitu melihat sayurannya
melayang-layang di depan matanya, matanya melotot tak percaya, tubuhnya tak
bergerak mematung, ia ingin berbicara namun tak dapat mengeluarkan kata-kata,
masih begitu sampai beberapa menit, hingga akhirnya tubuhnya terjatuh pingsan.
“Tu…kan, Putri sih bikin ulah. Ibu itu tidak
bisa melihatmu, Putri…! Ibu hanya bisa melihat sayuran yang kau makan”.
Sekarang Tanca yang mencoba menyadarkan
ibunya, sedangkan si Putri masih asik dengan sayuran yang masih belum di masak,
sambil sesekali ia meringik, mungkin sudah lama ia tak pernah mencerna makanan,
ia tak perduli dengan omelan Tanca yang terdengar semakin membosankan. Setelah
ia merasa ibunya sudah baikan, ia segera meningalkan ibunya di kamar tidurnya
yang sangat berantakan. Setelah itu ia mengajak teman barunya ke rumah Dhogle
sahabat sejatinya.
Sampai rumah Dhogle, Dhogle masih tidur,
seperti biasa setiap Tanca sampai rumah Dhogle ia terus saja menuju ke kamar
sahabatnya itu, tanpa permisi Tanca sudah berada di kamar Dhogle, Dhogle
sendiri masih berada di atas ranjangnya dengan ke adaan seluruh tubuhnya di
lilit oleh kain putih, sepertinya itu semua terjadi akibat kejadian semalam,
sewaktu Dhogle jatuh dari atap rumahnya, Tanca tidak tau kejadian itu, jadi
begitu ia sampai….
“Dhogle…” Tanca melompat terbang dan
mendarat tepat di atas Dhogle.
“Aaaa…” Dhogle menjerit sekuat tenaga,
akibat sakit yang ia rasakan. Tanca menyadari kejadian itu, dengan sigap Tanca
bangun dari atas tubuh Dhogle yang dililit kain putih.
“Kenapa kau Gle?” Tanca melihat keadaan
Dhogle, wajah pucat seperti orang mati, ia masih merintih kesakitan, terlihat
sekali muka marahnya, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa marah,
itu saja dan Tanca hanya bisa tertawa.
“Dhogle kau kenapa? Masa iya sih cuman gara-
gara si bocah cantik itu, kau sampai seperti ini. Kau ribut sama kekasihnya?”
Dhogle tak menjawab, dan memang dia tak dapat bergerak banyak, Dhogle
sebenarnya ingin menjelaskan semua tentang kejadian tadi malam, tapi ya… dia
tidak bisa berbuat banyak, serasa tulang di dalam tubuhnya sudah tidak ada yang
utuh lagi.
“Kenapa kau tidak minta bantuan padaku,
aku siap membela kau sampai titik darah penghabisan, cerita dong, Dhogle!”
Dhogle masih belum menjawab.
“Gle, kau tau tidak, semalam aku pergi
kemana?” Dhogle tak menjawab juga, tapi Tanca tau jawaban Dhogle.
“Semalam aku pergi ke kota lain.” Dhogle masih diam pasti dalam
hatinya ia berkata ‘dasar tukang bohong’.
“Ternyata dunia ini sangat luas Gle, luas
banget. Banyak yang baru aku ketahui.” Dhogle sedikit melirik Tanca, karna Tanca
bercerita dengan serius, tak ada tersirat kebohongan di wajahnya. Apel merah
kesukaan Dhogle bertengger di atas piring bertumpuk-tumpuk, menggoda Putri
untuk kembali usil, akhirnya Dhogle penasaran dengan cerita sahabatnya.
“Memangnya kota lain itu dekat Ca?”
“Dekat Gle dekat sekali, sebab aku
perginya naik Pegazus.” Tanca melihat aksi Putri.
“Pegazus?” Dhogle masih belum mengerti.
“Putri….jangan usil lagi!” tapi Tanca
telat memperingatinya, apel merah Dhogle sudah nempel di kedua bibirnya, siap
untuk di santap.
“Ca kenapa apel merahku bisa melayang
sendiri?” Dhogle tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia melihat satu
persatu buah kesukaannya lenyap. Tanca cuek dengan kelakuan Dhogle yang
terheran-heran dengan ulah Putri.
“Kenalin Gle itu teman baruku, namanya Putri.”
Dhogle makin tidak mengerti.
“Kau sudah sakit sejak kapan sih Ca? Kau
kenalin aku sama siapa? Disini tidak ada orang lain.”
“Kau juga tidak bisa melihatnya ya Gle?
Semalam aku ke kota
lain bareng sama dia.”
“Maksud mu, dia itu siapa?”
“Ya…Pegazus itu”
“Pegazus itu apa dan bagaimana aku juga
tidak tau bodoh.” Dhogle sedikit emosi, membuat sakit di sekujur tubuhnya
terasa lagi. Putri melihat tingkah Dhogle yang memang benar-benar sedang
kesakitan. Tanpa pikir panjang ia melakukan hal yang sama seperti ia
melakukanya pada luka-luka Tanca, keluar dari tubuh Putri seperti cahaya,
cahaya itu neresap ke luka-luka Dhogle. Seperti Tanca juga Dhogle merasakan
sakit yang sangat sakit di sekujur tubuhnya.
“Ca, kenapa badanku jadi sakit semua, Ca
sakit banget, Ca sakit…” Dhogle mulai meronta, menahan sakit ia berteriak,
keras sekali, tapi sepertinya di rumah sedang tidak ada orang, ayah dan ibu serta
ke tiga adik Dhogle pasti sudah berangkat ke pasar. Selesai ia berteriak,
Dhogle tak bergerak, terdiam sepertinya ia kelelahan.
“Bagai mana Gle sudah mending?”
“Iya mending tidak sakit lagi.” Ia meraba
sekujur tubuhnya.
“Kok tidak sakit lagi Ca?” Ia melepas
kain putih yang melilitnya “Kemana luka-luka memarku bekas jatuh dari atap
semalam?”
“Ooo jadi kau jatuh dari atap rumah? Aku
kira kau ribut sama kekasih Saphina.” Dhogle masih fokus pada tubuhnya yang
sembuh dengan ajaib. Dhogle merasa tubuhnya lemas rasanya ia ingin tidur, ia
merebahkan tubuhnya lagi. Tanca juga merasakan hal yang sama, ia pun lekas
merebahkan tubuhnya asal saja di atas ranjang sahabatnya, yang penting ia bisa
tidur. Dari tubuh Putri keluar asap, lalu asap itu meresap ke dalam kepala
mereka berdua.
Seorang pemuda berpakaian rapi, persis seperti seorang anak Raja sedang
mengejar buruannya, ia mengendarai kuda bersama dengannya seorang Panglima.
“Pangeran, rusanya ke sana.”
“Terus kejar Panglima jangan samapai
lolos!” seorang yang di sebut Panglima itu mengejar rusa yang kakinya sudah
terkena panah oleh sang Pangeran. Pemuda yang di sebut Pangeran itu berhenti
dan turun dari kudanya, para prajurit langsung menggelar tenda, Pangeran itu
duduk di tempat yang sudah di siapkan oleh para prajurit. Seorang yang sudah
tua berpakaian seperti seorang Penasehat mendekatinya.
“Pangeran Bayuwardana, sepertinya ini
sudah sore, alangkah baiknya jika kita kembali ke istana, baginda Raja Syahro
pasti sudah mencemaskan Pangeran.”
“Iya paman Aryawira, tapi kita perlu
istirahat, semua prajurit juga perlu istirahat, kita tunggu Panglima Ishkaria
kembali dulu ya!”
“Baiklah Pangeran.” Orang yang di sebut
paman Aryawira itu berbaur lagi dengan para prajurit. Pangeran Bayuwardana
melepaskan lelah dengan bersantai di bawah pepohonan besar.
“Pangeran…,Pangeran…”seorang prajurit
berlari-lari ke arahnya dengan panik.
“Ada apa
prajurit? Kenapa kau berlari-lari begitu?”
“Di sana
ada... ada...ada...”
“Atur nafas dulu, baru bicara!” prajurit
itu mengikuti saran dari Pangerannya.
“Sudah tenang?” prajurit itu mengangguk
“sekarang coba kau ceritakan padaku semua yang telah terjadi.
“Di sana
ada…” belum sempat prajurit itu meneruskan laporannya, Panglima Ishkaria
kembali bukan dengan rusa buruannya tapi dengan membawa seorang wanita terluka
parah.
“Itu maksud hamba Pangeran, ada seorang
wanita terluka parah di dalam hutan.” Pangeran Bayuwardana langsung ikut
melihat wanita itu, wanita itu, terluka parah, memar di sekujur tubuhnya,
wajahnya penuh dengan luka goresan, sepertinya wanita itu baru di siksa oleh
orang-orang, lalu dia di buang ke dalam hutan. Entahlah itu baru pikiran Pangeran
Bayuwardana, belum tentu benar, karna wanita itu sekarang masih tidak sadarkan
diri.
“Prajurit! Bawa wanita ini pulang!” Pangeran
Bayuwardana memberi perintah, orang yang di sebut Pangeran Bayuwardana paman Aryawira
seperti telah membaca sesuatu, dari itu lah dia berani melarang Pangeran Bayuwardana.
“Pangeran, kalau boleh aku memberi saran,
sebaiknya Pangeran jangan pernah membawa wanita itu ke Kerajaan.”
“Kenapa paman? Dia memerlukan pertolongan
kita.”
“Hamba juga tidak tau Pangeran, tapi
hamba melihat sesuatu yang akan terjadi.”
“Apa itu paman?
Katakan!”
“Hamba tidak
tau Pangeran.” Pangeran Bayuwardana sedikit berfikir apakah ia harus mengikuti
saran paman Aryawira, atau akan membiarkan wanita itu tetap di hutan ini, yang
pasti bahaya akan mengintainya dari berbagai segi, belum tentu hari esok ia
masih utuh, bisa saja wanita ini sudah menjadi santapan para binatang buas, dan
tinggal kerangkanya saja ketika mereka temui lagi. Sebenarnya belum pernah Pangeran
Bayuwardana mengabaikan saran Penasehat ayahnya ini, tapi kali ini...
“Tidak paman,
aku akan menolong wanita ini, maafkan aku paman.” Paman Aryawira tidak dapat
menolak keputusan anak dari rajanya, meski apapun yang akan terjadi ia kini
tinggal menerima saja keputusan yang kuasa. Para
prajurit segera membuat tandu untuk membawa tubuh tak berdaya entah milik
siapa, Pangeran hanya berniat untuk menyelamatkan nyawanya saja, ia tak pernah
berfikir apa yang akan terjadi berikutnya, seperti apa yang telah di bicarakan
oleh paman Aryawira. Dan Panglima Ishkaria bukanlah pembela Aryawira jadi ia
hanya menurut dengan semua perintah Raja dan Pangerannya saja.
Sampai di istana wanita itu di obati oleh
tabib-tabib yang ada, namun tak ada satu tabib pun yang bisa membuat wanita itu
kembali membuka matanya, hanyalah seorang Penasehat Aryawira yang sebenarnya
mampu menyembuh kannya, tapi Aryawira sudah tau akibatnya bila wanita itu
kembali membuka matanya, meskipun ia tak tau apa itu.
“Penasehat, aku, rajamu yang memohon
padamu, tolong selamatkan wanita ini!” sampai rajanya yang memohon barulah Aryawira
terpaksa menyembuhkan wanita itu.
“Terimakasih paman Aryawira.” Pangeran Bayuwardana
untuk yang ke sekian kalinya berterima kasih kepada Penasehat ayahnya. Meskipun
akhirnya wanita itu dapat kembali membuka matanya, tapi bekas luka di wajahnya
tak dapat hilang.
Semakin hari wanita itu semakin pulih,
kini ia sudah mempunyai namanya kembali, Syafira, sebuah nama yang indah nan
cantik, tapi tak se cantik wajahnya, yang di penuhi dengan bekas luka, Pangeran
Bayuwardana yang terkenal mempunyai banyak kekasih, pandai merayu wanita, masih
tetep seperti itu, tapi ada yang baru yang menjadi kegiatan sehari-harinya,
menemui Syafira, wanita yang sudah ia selamatkan dari dalam hutan tempat Pangeran
berburu. Semakin hari Syafira semakin di kenal oleh rakyat Kerajaan, yang di
pimpin oleh Raja Syahro, yaitu Kerajaan
Sinagablu.
Rakyat menyebutnya dengan julukan Putri
Syafira, tuturkatanya yang ramah dan sopan pada orang lain, membuat orang lain
juga menghormatinya, meski wajahnya masih tak berubah, masih di penuhi dengan
bekas luka, namun itu tak pernah membuat Putri Syafira rendah diri, karna semua
tingkah laku dan semua yang di lakukan oleh Putri Syafira itulah perlahan Pangeran
menjadi semakin menaruh hati pada sang Putri, kebiasaan bermain wanita ia
tinggalkan, hingga banyak wanita yang putus cinta karna di tinggalkan olehnya,
semua hati sudah di dapatkan oleh Syafira, hanyalah sang Permaisuri yang tidak
pernah menerima keberadaannya, suatu hari ketika Putri Syafira sedang mandi di
pendopo Kerajaan, Permaisuri datang padanya.
“Kau disini rupanya Syafira.” Tutur
katanya halus, tapi masih terlihat keterpaksaannya.
“Iya bunda mari kita mandi bersama.” Syafira mencoba mengajak Permaisuri.
“Mandi denganmu?
Maaf saja ya!” terlihat jelas semua yang tersimpan di hatinya “mandi dengan
wanita yang wajahnya di penuhi dengan goresan luka, tidak akan!” Syafira merasa
untuk yang pertama kali dihina di Kerajaan Sinagablu, oleh seorang Permaisuri,
oleh ibunda orang yang menyelamatkannya dari maut, Syafira sakit hati, ia keluar
dari kolam pemandian, sang Permaisuri merasa menang.
“Alangkah lebih
baik jika kau segera pergi dari Kerajaan ini Syafira.”
“Baiklah
ibunda, kalau itu adalah ke inginanmu, hari ini juga aku akan pergi.” Syafira
memakai kembali semua pakaiannya setelah itu ia berlari keluar dari istana, ia
pergi dan takkan kembali lagi, ia pergi tanpa membawa apa-apa.
Tak lama setelah kejadian itu, pengusiran
sang Putri Syafira oleh Ratna Seruni sang Permaisuri Raja Sinagablu, Pangeran Bayuwardana
baru kembali dari perburuannya. Ia langsung mencari
sang Putri, ia menuju kamarnya.
“Putri... lihat apa yang Pangeran bawa
untukmu.” Namun di kamar Putri sudah tak berpenghuni, Putri sudah pergi, Pangeran
masih mencarinya, terus mencari, tapi pencariannya tak ada hasil, akhirnya ia
mencoba bertanya pada penghuni istana, masih belum di temukan, mereka semua
yang di tanya oleh Pangeran Bayuwardana hanya menjawab, ‘aku tidak melihatnya Pangeran’
akhirnya ia menemui ibundanya.
“Ibu, ibu tau di mana Putri Syafira?”
“Syafira? Ibunda tadi melihat ia pergi
keluar dari istana, mungkin ia sedang ke hutan tempat tinggalnya.”
“Maksud ibunda?” Pangeran tidak mengerti
dengan ucapan ibundanya.
“Sudahlah Pangeran Bayuwardana! Kau
adalah anak Raja, Syafira itu siapa sih? Dia itu hanya seorang wanita yang
bermuka cacat, masih banyak wanita lain di Kerajaan ini yang siap menjadi
pendampingmu anakku.” Pangeran Bayuwardana mengerti dengan pembicaraan
ibundanya, ia benar-benar marah kali ini, ia sadar ia telah jatuh cinta pada
sang Putri, saat inilah saat yang selama ini ia tunggu, merasakan betapa nikmatnya
menjadi manusia yang dapat merasakan jatuh cinta, menyayangi orang yang
benar-benar ia sayangi, mencintai orang yang bener-bener ia cintai, mengasihi
seseorang dengan perasaan kasih sayang, tanpa mengharapkan apa-apa, tanpa
keinginan apa-apa, kecuali keinginan untuk di sayangi, di cintai, dan di
kasihi, seperti ia mencintai, menyangi, mengasihi orang itu. Dan kini cinta
sucinya telah ternoda oleh ibundanya sendiri, kemarahan itu sekarang sudah
menguasai diri Pangeran, perlahan, tubuh Pangeran menggigil.
“Apa hak ibunda mengatur aku?” ibunda
terkejut begitu suara Pangeran menggelegar di dalam istana, Permaisuri melihat
wujud anaknya berubah menjadi sesosok makhluk yang belum pernah ia lihat,
sesosok manusia yang berkepala dan bercakar srigala “ini hidupku, ini cintaku,
ini pengorbananku, kenapa ibunda?” Emosi Pangeran sekarang sudah tak
terkontrol, tangan Pangeran yang sudah berubah menjadi cakar srigala seperti
bergerak sendiri, tangan itu melayang mengarah ke wajah ibundanya, sang Permaisuri
Kerajaan, sekarang tak ada bedanya antara wajah Permaisuri dengan wajah sang
Putri, keduanya memiliki luka di wajahnya. Pangeran tidak menyadari apa yang
baru saja ia lakukan kepada ibundanya, begitu ia menyadarinya, ia sudah kembali
ke wujud aslinya, Pangeran Bayuwardana…
“Apa yang telah aku lakukan?” ia melihat
tubuh ibundanya terkapar di depan matanya tak sadarkan diri, ia panik, ia
keluar dari kamar ibunda dengan tangan di penuhi oleh darah segar, tak lama
setelah itu dayang sang Permaisuri masuk kamar,...
“Permaisuri…” dayang itu berteriak sangat
ketakutan, semua orang menuju ke kamar Permasuri.
“Tangkap Pangeran Bayuwardana!” perintah Raja
Syahro begitu melihat keadaan Permaisuri,
Pangeran sendiri sudah berada di depan pintu gerbang, penjaga gerbang langsung
menutup pintu gerbang dan menghadang Pangeran Bayuwardana. Dalam sekejap sudah
banyak prajurit yang mengepung dirinya. Perkelahian pun tak terelakkan, Pangeran
Bayuwardana memang sudah mempunyai dasar beladiri, ia berguru pada Panglima Ishkaria,
jadi baginya sangatlah mudah untuk melawan beberapa prajurit saja, sepuluh,
duapuluh, tigapuluh, dengan mudah Pangeran melumpuhkan para prajurit, namun
semakin lama ia melawan para prajurit, prajurit itu semakin membengkak
jumlahnya, kini yang mengepungnya sudah lebih dari lima ratus prajurit, Panglima
Ishkaria tak tega melihat anak didik sekaligus pengerannya di kepung oleh
begitu banyak prajurit, akhirnya ia pun ikut turun tangan, ia membantu
mengeluarkan Pangeran dari kepungan para prajurit.
“Pangeran cepat
kau lari, pergi ke tempat biasa kita berlatih.”
“Paman sendiri
bagaimana?”
“Aku nanti
menyusul, cepat kau pergi.” Dengan cepat Pangeran meninggalkan Panglima Ishkaria
yang masih menghadang para prajurit dengan sebilah pedangnya. Begitu Panglima
melihat Pangeran sudah jauh dari Kerajaan, kini giliran dia ikut melarikan
diri. Sedangkan penasihat Aryawira tak tampak di Kerajaan saat ini, entah di
mana si Penasehat itu berada sekarang.
Dalam usahanya
melarikan diri menyusul Pangeran yang sudah aman berada jauh dari Kerajaan Sinagablu,
Panglima Ishkaria terluka parah terkena tombak prajutit di punggung sebelah
kiri.
***
Di tempat yang
jauh, di tempat yang aman, di tempat yang tak ada prajurit mengejarnya, Pangeran
Bayuwardana sedang merenungi semua yang telah terjadi, semua yang baru saja di
alaminya, ia telah melukai wajah ibundanya, seorang yang telah melahirkannya,
seorang yang ia sayangi, tapi lebih tidak dia mengerti mengapa ibunya tega
mengusir Putri Syafira, orang yang pertama kali mengenalkan cinta padanya,
cinta yang nyata, cinta yang bener-bener ada, melekat di hatinya, ada lagi yang
sangat ia tidak mengerti, kenapa jika emosinya meluap, ia tak dapat
mengendalikan diri, seperti ada orang lain yang merasuk ke dalam dirinya,
hingga kini ia terus memikirkan hal itu.
Perlahan ia
membuka gulungan kulit rusa yang sudah kering yang ia ambil dari rumah pohon
yang ada persis di atasnya, karna sekarang ia berada di bawah pohon yang sangat
besar, ia melihat kembali gambar yang sudah ia gambar di atas kulit rusa kering
itu, gambar sesosok kuda putih bersayap, ia ciptakan gambar itu ketika ia
benar-benar sedang memikirkan Putri Syafira, yang tadinya ia ingin tunjukkan
gambar itu kepadanya sekaligus ia ingin mengutarakan rasa cintanya kepada
Putri, tetapi ternyata ibundanya telah mengusirnya dari istana, sekarang ia tak
tau di mana sang pujaan hatinya berada. Begitu ia mengingat Syafira amarahnya
kembali menguasainya, ia mengambil kulit rusa kering yang lain yang masih belum
ada isinya, lalu ia menggambar sesosok manusia yang berkepala srigala dan
bercakar persis seperti wujudnya ketika menyerang ibundanya, Ratna Seruni sang
Permaisuri Raja, begitu ia melihat seekor rusa di dekatnya, gambar yang berada
di kulit rusa kering itu segera lepas dari tempatnya, dan meresap ke tubuh rusa
itu, rusa itu pun dengan segera berubah wujud seperti yang ada di gambar kulit
rusa kering tadi.
@###@