Minggu, 30 November 2014

2.Ke Bukit Sinagablu

di perjalanan Tanca dan sahabatnya kali ini akan menyebrangi sebuah sungai yang sangat di takuti oleh semua warga kota Gandsai, banyak kejanggalan di sana, silahkan ikuti kisahnya...
selamat berimajinasi ya sobat semua... kita masuk dalam minda sang penulis yang sedikit guemblung... huakakakakak...
2.Ke Bukit Sinagablu
Keputusan sudah di tentukan dan sekarang sudah harus di lakukan, hanya tinggal menunggu waktu saja dua sejoli ini akan menantang segala kemungkinan yang akan terjadi di hadapanya nanti, Wajah Tanca tidak berubah dari hari terakhir ia bertengkar dengan Phitaloka di tepi danau, sebenarnya Tanca menyesal telah membuat Phitaloka menangis, tapi apalah daya, bila ia tak pernah mencoba selamanya kan terus seperti ini, selamanya akan menjadi misteri, karna itulah Tanca mengambil langkah ini, ia tidak mau terus di cemooh, ia ingin membuktikan semuanya, semua yang pernah di ceritakan oleh Gunawan padanya, semua yang telah di ceritakanya pada orang-orang.
Gandsai akan di kenal oleh Kota lain, meskipun tak ada satu orangpun yang mau mempercayainya, bahkan sang kekasih pujaanya pun tak mau mendukung keputusanya. Ia sudah menyerahkan segalanya pada keadaan. Andaikan ia harus mati di dalam perjuanganya untuk mewujudkan segala impianya, ia akan menerima dengan lapang dada.
Berbeda sekali dengan Dhogle, sahabat Tanca satu-satunya ini sangatlah bersemangat tuk pergi ke Bukit Sinagablu, entah makluk apa yang membisiki telinganya, padahal sesungguhnya Dhogle sangat lah takut pada nama Bukit itu. Kini mereka sudah mempersiapkan segalanya, tepat matahari menampakan diri mereka akan segera pergi, tak ada yang tau kemana mereka pergi kecuali Phitaloka, yang tidak pernah mengizinkan Tanca masuk ke Bukit Sinagablu. Beberapa hari yang lalu  Dhogle mencoba memanfaatkan kesempatan yang telah di berikan Tanca untuk merebut hati Saphina, ia sengaja menemui Saphina dan kawan-kawannya yang sedang mencuci pakaian bersama di danau, ia sengaja menunggu Saphina selesai mencuci, ia akan nekat tuk berbicara pada Saphina, tentang kepergianya menemani sahabatnya.
Setelah lama menunggu akhirnya Saphina selesai juga mencucinya, Dhogle dengan semangat mendekati Saphina meski pun di dalam dadanya bergemuruh menolak bertemu dengannya, begitu Saphina melihat Dhogle, ia langsung berusaha menjauhi Dhogle, dengan cepat Dhogle mencegah Saphina pergi.
”Saphina, tunggu phina!” Dhogle menarik tangan Saphina. Temen-temanya terus meninggal kan mereka berdua karna mereka tau Dhogle tidak akan menyakiti Saphina.
”Kenapa sih kau mengganggu aku terus?” Saphina mencoba melepas pegangan Dhogle, Dhogle pun melepaskan Saphina.
“Jadi selama ini kau merasa terganggu?” Saphina tidak menjawab. “baiklah kalau memang selama ini aku menggangumu, aku minta maaf, aku juga sadar kok phin, meskipun aku bawakan sebukit emas untukmu, lalu aku petik rembulan juga hanya untukmu, ku serahkan segalanya hanya untukmu, kalau kau tidak pernah suka sama aku, selamanya aku tidak akan pernah memilikimu, aku tidak mau kau tersakiti, bila selama ini cintaku hanya akan menyakitimu, maka maafkan lah aku.” Saphina diam, entah apa yang ada di fikiranya mungkin juga karna Saphina tidak mengerti apa maksud dari kalimat yang di ucapkan Dhogle baru saja.
“Aku menemuimu sekarang karna aku takut kita tidak akan bertemu lagi. Aku akan pergi jauh Phin, aku mau pamit.”
“Baguslah kalau begitu.” Saphina menjawab dengan jutek. Dhogle tidak tau harus bicara apa lagi dengan Saphina yang selalu cuek padanya, ia ulurkan tangannya berharap bisa menyentuh tangan Saphina yang terakhir kali, satu, dua, tiga, empat detik sama sekali tak ada respon darinya. Semakin Dhogle bingung, akhirnya ia menyadari bahwa dirinya sudah gagal memanfaatkan kesempatan yang di berikan Tanca untuk mencuri hati Saphina, ia akan pergi tanpa ada yang merindukan kembalinya, andaikan nanti ia tak akan pernah kembali lagi ia tidak akan merasa di rindukan oleh orang lain, mungkin inilah keputusan Dhogle yang paling indah, ia akan menyerahkan tubuhnya hanya untuk sahabatnya yang sudah pasti memperdulikannya. Serasa tubah Dhogle tak bertenaga, ingin ia meluapkan kemarahanya, tapi ia marah pada siapa? Ia marah pada dirinya yang mencintai orang yang tidak pernah mencintainya. Satu kalimat terakhir untuk Saphina.
“Saphina, ada dua harapan terbesarku untukmu, pertama, aku berharap bila aku berhasil kembali ke Kota ini, kau sudah tak mengenal aku, dan aku tidak lagi mengenalmu, kedua, andaikan aku benar-benar tak akan pernah kembali, aku harap kau akan terus mengingat aku, orang yang sangat memujamu.” Dengan amarah meluap-luap, dengan air mata yang memaksa keluar dari pelupuk matanya, dengan wajah membara merahnya, ia lari menjauh dari pandangan Saphina. Saphina memandang kepergian Dhogle dengan seribu tanda tanya.
Tapi itu semua kejadian beberapa hari yang lalu, ketika ia berani mengungkapkan perasaannya pada orang yang di cintainya, walau pun ia tak pernah bertanya dan Saphina tak pernah menjawabnya, mungkin itu kesalahan Dhogle, kenapa ia tidak pernah bertanya pada Saphina tentang perasaan Saphina kepadanya.
“Dhogle! Kau sudah yakin dengan keputusanmu ini?” Tanca mulai bersuara lagi.
“Aku sudah yakin Ca?” Mereka akhirnya melangkahkan kaki dari rumah Tanca, ibu dan ayah Tanca masih sibuk dengan kesibukan mereka, kedua sahabat itu pergi ke Bukit Sinagablu hanya membawa busur dan anak panahnya, dengan bahan makanan secukupnya, pakaian pun seadanya. Mereka menyebrangi danau dengan rakit yang sudah mereka siapkan, mereka masuk ke dalam kabut, mereka pun sampai di daratan Sinagablu hanya memerlukan waktu beberapa menit saja, mereka terus menelusuri Bukit, perlahan memasuki semak-semak, rumput-rumput tumbuh bebas di sini karna memang tak ada manusia yang berani mendatanginya, mereka berdualah yang pertama, setidaknya selama 36 tahun terakhir ini. Sepanjang perjalanan mereka selalu saja menemukan hal-hal yang baru, dari menemukan ular yang besar tubuhnya hampir sama dengan tubuh Tanca, pohon Apel merah kesukaan Dhogle yang sangat banyak buahnya, sampai Dhogle bingung mau makan yang mana dulu dari lima buah yang ada ditanganya, tulang belulang rusa yang semua kepalanya sudah tak ada, yang aneh dari Bukit ini adalah, semua binatang buas tak pernah terlihat oleh mereka, jangan kan binatang buas, binatang yang tidak buas pun di sini mereka tidak melihatnya, mereka hanya melihat  ular itu pun tidak banyak, suasana di sini seperti bekas ada penghuninya, tapi sudah lama sekali tidak di tinggali lagi.
Sekarang sudah hampir malam tapi mereka belum juga sampai ke tempat tujuan. Padahal kalau di lihat dari Kota Gandsai sepertinya Bukit ini tak perlu harus berjam-jam tuk sampai ke sana. Entahlah, sekarang mereka sudah kelelahan mereka sedang istirhat mengendurkan otot mereka yang seharian terus berjalan di dalam Bukit Sinagablu, menurut mereka Bukit ini tak ada bedanya seperti hutan tempat mereka biasa berburu rusa di dalam Kota Gandsai. Matahari terus turun tanda malam sudah tak mau menunggu lama lagi, Tanca bersiap membuat api unggun dengan kayu-kayu yang di kumpulkan oleh Dhogle yang sekarang sudah rebahan di bawah pepohonan besar, entah pohon apa itu, mereka benar-benar belum pernah menemui pohon semacam itu sebelumnya. Kini api telah menyala, dan Dhogle pun telah terlelep.
Malam semakin larut suasana dalam Bukit Sinagablu mulai sunyi bagaikan tak ada makhluk hidup lain selain dua manusia nekad itu, yang masih tetap yakin dengan keyakinan mereka, mereka akan mengetahui apa yang sebenarnya orang-orang takutkan dari Bukit Sinagablu ini. Tanca yang sekarang masih belum bisa melupakan Phitaloka, masih terus membuka memori kenangan bersama orang yang pernah memenuhi hatinya dengan perasaan kasih sayang dan kemesraan yang sempurna,  kini di tengah Bukit Sinagablu, yang di sinilah segalanya di takuti oleh mereka orang-orang Kota Gandsai, yang disinilah semua orang yang pernah datang tak pernah kembali, yang di sini jugalah Tanca akan mengukir sejarah, sampai sekarang Tanca masih juga menerawang memori lamanya mengenang masa-masa manis bersama Phitaloka. Masih terus saja ia mengenang masa itu, tanpa ia sadari apa yang sedang terjadi di sekitarnya, kini malam sudah benar-benar malam, Tanca pun rasanya sudah ngantuk berat, ia mulai memejamkan mata tepat di samping sahabatnya, api unggun masih tetap menyala.
***
Jauh di dalam Bukit Sinagablu sedang terjadi sesuatu, entah apa itu, yang jelas dalam Bukit itu bising sekali, tapi entah kenapa dua sahabat ini tetap tertidur lelap.
“Hati-hati Putri! Cepat lari! Kami akan melawan para Galasu itu!” seorang pria bercadar menyuruh seekor kuda putih bersayap patah pergi dari kumpulannya, kumpulan itu bersenjata lengkap, ada busur panah dan anak panahnya, pedang di tangannya, ada juga yang memakai tombak, sang kuda putih bersayap patah terus berlari, sekumpulan orang bercadar melawan lima manusia yang berkepala srigala, mungkin itu adalah Galasu, seperti nama yang di sebutkan oleh orang bercadar itu, satu persatu Galasu dapat di kalahkan oleh kelompok orang bercadar itu dengan susah payah, entah makhluk apa itu, tidak sedikit dari kelompok bercadar itu yang cedera terkena cakaran si Galasu. Sepertinya ini adalah perang.
“Semoga Putri Shafira bisa menyalamatkan diri, jangan sampai sayapnya jatuh ke tangan Pangeran Bayuwardana. Itu sangat berbahaya untuk diri Putri.”  Satu lagi orang bercadar mengingatkan si kuda putih bersayap patah. Seorang dari empat orang bercadar itu membantu ke tiga temanya beristirahat, dan mengobati luka-luka temannya. Malam semakin larut, Tanca dan Dhogle masih tertidur pulas, nyenyak sekali, serasa tidur di atas ranjangnya sendiri, padahal sesungguhnya mereka tidur di dalam Bukit yang kapan saja bahaya dapat membunuhnya. Di dekat mereka di dalam semak-semak rerumputan ada yang mengintai, sangat mencurigakan, Tanca mulai menyadari keberadaan itu, karna sekarang ia sudah terjaga sepenuhnya, perlahan ia mendekati semak-semak itu, ia mempersiapkan busur panah lengkap dengan anak panah siap menerima printah dari Tanca. Tiba-tiba keluar dari semak-semak sesosok makhluk berkepala srigala, menatap tajam ke arah Tanca yang siap melepas panahnya.
“Syeleeeeb” panah menghujam tepat di dada kanan makhluk itu, tapi makhluk itu tak bergeming, ia dengan lincah menerkam Tanca.
“Whes”
“Aaaaagh…” cakar Galasu mengenai dada Tanca yang hanya terlindung dari kain saja, darah segar mengalir dari lukanya, tak lama setelah itu Tanca roboh mengerang kesakitan, Galasu mendekati tubuh Tanca yang sudah tak sadarkan diri, tangan Galasu sudah mencengkram kepala Tanca, tepat di bawah pohon besar Dhogle sahabat Tanca, masih tertidur pulas, tiba-tiba saja kepala Galasu pecah berantakan, rupanya ada sebuah anak panah yang mengenai kepala Galasu itu, asap keluar dari bangkai Galasu, tubuhnya seketika berubah menjadi seekor rusa tak berkepala. Datanglah sesosok kuda putih bersayap patah mendekati tubuh Tanca, di susul oleh empat orang bercadar yang sebagian dari mereka terpincang-pincang.
“Trimakasih Barda, kau sudah menyelamat kan cucuku” seorang bercadar yang paling sehat berterima kasih pada orang bercadar yang kakinya luka parah karna cakaran Galasu.
“Sama-sama Gondho! Kau juga sudah menyelamatkan kami.”
“Lalu sekarang aku harus bagaimana?” tanya kuda putih bersayap patah.
“Sekarang Putri ikut cucuku ini, pergi ke Kota Gandsai, tunggu sampai Putri dapat terbang lagi, baru Putri ke mari, tuk menyalamatkan Asman. Biar kami yang mengurus Galasu ciptaan Pangeran Bayuwardana. Yakin lah pada kami Putri! Putri aman di Kota Gandsai.”
“Kalau Galasu itu mengejar aku sampai ke Kota Gandsai bagai mana?”
“Itu tidak akan terjadi Putri, kalau pun Galasu berhasil keluar dari Bukit ini, ia akan langsung berubah menjadi rusa biasa.”
Hari mulai fajar, Dhogle baru bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak, semua orang yang bercadar sudah tidak ada lagi di sana, yang ada hanya bangkai rusa yang kepalanya hancur, dan Tanca yang di sangka Dhogle sedang tidur di samping rusa hasil buruanya.
“Ah.. payah kau Ca, berburu tidak bangunin aku” Dhogle belum sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi, Tanca masih belum bergerak, akhirnya Dhogle bangkit dan mendekati Tanca.
“Bangun Ca, sudah pagi nih, ni rusanya mau di apakan?” Dhogle melihat kepala rusa itu.
“Gila kau kejem sekali, kepalanya pecah hancur berantakan begini, Ca bangun!” Begitu Dhogle melihat dada Tanca yang terluka parah…
“Tanca…? Kenapa kau Ca?” Dhogle panik sendiri ia bingung dengan apa yang seharusnya ia lakukan, ia melihat luka di dada Tanca sahabatnya. Ia melepaskan baju yang ia kenakan, lalu ia mengikatkan pada dada Tanca yang terluka. Ia memegang kepala Tanca, panas, ia makin panik.
“Tolong….tolong…tolong.” ia berteriak-teriak sendiri karna ia tak sadar bahwa ia masih di tengah Bukit yang di takuti oleh semua orang di Kota Gandsai.
“O iya ya aku kan sedang di Bukit Sinagablu, sudah pasti di sini tidak ada orang, ya hanya kami berdua saja yang ada di sini, tidak mungkin Saphina ada di sini, Lho kok ngomongin Saphina sih, duh gimana ini, Ca kau kenapa?” Tanca masih tetep tidak sadarkan diri, Dhogle membawa sahabatnya ke bawah pepohonan supaya nanti ketika matahari bersinar ia terlindungi dari teriknya matahari. Dhogle terus berusaha menyadarkan Tanca, setiap kali ia kembali dari mencari bahan makanan dan setiap kali ia mencari bantuan.
Hampir dua hari Tanca tidak sadarkan diri, membuat Dhogle memutuskan untuk segera keluar dari Bukit Sinagablu ini, besok pagi ia akan langsung kembali menuju Kota Gandsai di mana disanalah hidup satu wanita yang teramat ia kasihi, meskipun ia tau orang yang ia kasihi itu tak pernah mencintainya, bahkan sekarang pun pasti Saphina tidak sedang merindukannya.
Entah kapan ia akan di rindukan oleh seoarang wanita yang ia sanjung-sanjung itu. Mungkin nanti ketika Saphina benar-benar sudah membuka hatinya untuk dirinya dan itu entah kapan, mungkin juga ketika bocah cantik itu sudah menjadi wanita dewasa yang akan memuja cinta, seperti setiap wanita mengagungkannya.
Kali ini Dhogle merasa harus mengambil keputusan yang mungkin sahabatnya tidak akan pernah setuju, tapi itulah keputusan yang harus di ambilnya saat ini, karna dia memang benar-benar sendiri, meskipun ada Tanca namun dia tidak dapat menolak keputusan Dhogle.
“Maafkan aku Ca, aku harus membawamu kembali ke Kota Gandsai, aku harus lakukan ini. Sekali lagi maafkan aku.”
Dhogle mengikat tubuh Tanca dengan tubuhnya, ia hadapkan tubuh Tanca yang terluka ke belakang, supaya luka itu tidak mengenai tubuh Dhogle. Busur dan anak panah sudah di pegang Dhogle kedua-duanya, milik Tanca, juga miliknya sendiri, ia mulai melangkahkan kaki, kemudian ia berjalan menelusuri jalan yang pernah mereka lalui.
Tubuh Dhogle tidaklah sekuat Tanca, karna itu lah sebentar-sebentar ia berhenti untuk istirahat, perjalanan ini pun harus Dhogle tempuh dalam waktu dua hari dua malam, dan sepanjang masa itu, Tanca tidak sama sekali membuka matanya, satu-satunya bahan makanan yang masih ada sekarang adalah Apel merah yang Dhogle petik ketika di setengah perjalanan pulang tadi, mereka sudah berhasil menyebrangi danau, dan mereka sudah masuk wilayah kota Gandsai, Dogle merasakan ada yang aneh dengan rakitnya, kali ini rakit yang di pakai mereka menyebrangi danau jadi seperti bertambah bebannya, tapi Dhogle tak perduli, sepertinya Dhogle sudah bosan makan Apel merah melulu sepanjang perjalanan, ia memutuskan tuk mencari buruan di dekat sini, ia tinggalkan Tanca sendiri di tempat istirahat karna dia sudah merasa aman sudah berada di di Gandsai, lama Dhogle tidak kembali, orang-orang Kota Gandsai yang sedang berburu rusa menemukan Tanca sendirian dengan luka parah di dadanya. Mereka semua memang hebat dalam melakukan perburuan rusa, mereka jago memanah, bakat itu turun temurun dari moyang mereka. Orang-orang itu ingin membawa Tanca ke rumahnya, tapi Dhogle sudah kembali.
“Hei… mau di apakan sahabatku?” teriak Dhogle dari jauh, ia berlari mendekati rombongan pemburu sambil hasil buruanya di gendongnya.
“Tanca kenapa Gle? Kenapa ia terluka parah?”
“Ia berkelahi dengan srigala, dan srigalanya kalah, kepalanya pecah”
“Jangan bohong kau Gle, tidak baik jadi pembohong tau.”
“Kalau tidak percaya ya sudah, Tanca berantem sama srigala di Bukit Sinagablu…” seketika ketika Dhogle menyebutkan nama Bukit itu, para pemburu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Aku sudah menduga sebelumnya, mereka pasti tidak akan percaya dengan ceritaku ini, lebih baik tidak usah aku cerita dengan siapapun, karna mereka memang tidak akan percaya pada kami.”
Dhogle melanjutkan rencananya ingin membakar sendiri hasil buruannya dan kemudian memakannya sendiri.
Dhogle melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah mereka setelah semua daging rusa muda sudah di habiskanya sendiri, mungkin nanti menjelang malam mereka baru sampai. Ia sekarang harus kambali mengikat tubuh Tanca pada tubuhnya kemudian kembali menjelajahi jalanan memasuki Kota Gandsai.
Sampai rumah, ayah dan ibu Tanca terkejut melihat Tanca yang masih tak berdaya dan sadarkan diri di gendong sahabatnya.
“Tanca, kenapa kau nak?” Tanca di bawa masuk oleh ayah dan Dhogle, di rebahkan tubuh tak berdaya itu di ranjangnya yang sudah lama ia tinggalkan, kini ia kembali dengan keadaan tak berdaya, Dhogle tau, Tanca pasti tidak setuju kalau perjalanannya ke Bukit Sinagablu di ceritakan pada orang-orang, termasuk kedua orang tuanya, terpaksa Dhogle harus mengarang cerita, bahwa mereka bertemu seekor srigala besar ketika mereka sedang berburu.
“Untung saja aku bisa mengalahkan srigala itu, kalau tidak Tanca pasti sudah mati” dengan cepat cerita ini menyebar ke seluruh Kota Gandsai, tiga hari Tanca baru sadarkan diri, tapi dia masih belum sehat, ia mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi di Bukit Sinagablu , tapi yang di ingatnya hanyalah seekor srigala yang bertubuh manusia menyerang dirinya walau pun anak panahnya sudah mengenai jantung makhluk itu. Dari sinilah kemudian Tanca memutuskan untuk tidak lagi mendengar cerita tentang Kota lain, Bukit Sinagablu, dan semua yang ada hubungannya dengan impian yang tak mungkin menjadi nyata itu.
Akhirnya ia menyesal karna ia tak mau mendengar kata-kata kekasihnya dulu, busur dan anak panah sudah di simpan. Mungkin nanti bila Tanca benar-benar sudah sembuh, busur itu akan ia gunakan lagi untuk memburu rusa, seperti hobinya itu. Tapi sekarang ini ia belum sembuh luka bekas cakaran Galasu masih terasa perih, ia masih tetap menjadi beban orang tuanya, masih harus meminta pertolongan pada sahabat setianya, bahkan untuk makan sekalipun. Namun dengan kejadian ini segalanya tampak begitu jelas, siapa yang sungguh-sunguh mencintainya, mencintai dengan ketulusan hati, ayah, ibu, dan Dhogle, mereka yang sebenarnya selalu ada, kapanpun Tanca membutuhkannya, seperti sekarang ini yang masih ada di sampingnya adalah Dhogle, yang sekarang ia masih tertidur, mungkin ia kelelahan karna setiap hari ia selalu menjaga sahabatnya, walaupun tidak sehari semalam, mereka bergantian ayah, ibu, dan Dhogle.
“Nak Dhogle, bangun nak! Makan dulu nih nasinya sudah matang.” Lekas Dhogle terjaga begitu ibu Rahayu, ibunya Tanca mengejutkanya.
“Aumnmnyam…sudah pagi ya bu?” mata Dhogle baru saja melek, ia belum begitu sadar. “Ca bangun, makan yuk?” Memang terkadang Dhogle suka begitu ia perlu waktu tuk bener-bener sadar dari tidurnya.
“Iya aku sudah bangun kok.” Jawab Tanca dengan nada lemah.
Dhogle langsung membawa nasi dan sayuran serta lauk, yang ibu Rahayu dapat dari pasar ke kamar Tanca.
“Ni Ca, sayur daun singkong sayur kesukaanmu, ayo kita makan, aku suapin ya!”
“Aku mau coba makan sendiri Gle!” Tanca menolak suapan dari Dhogle ia berusaha untuk duduk “Dhogle Bantu aku!” Dhogle langsung membantunya dengan semangat, tapi Dhogle ragu dengan usaha Tanca.
“Kau yakin, kau sudah bisa bergerak Ca?”
“Kenapa tidak?” terlihat Tanca menahan sakit, tapi Tanca memaksakan dirinya “tu kan aku bisa.” Dhogle masih khawatir Tanca terjatuh, dan Dhogle tau siapa Tanca, dari kecil yang selalu menasehati dia untuk pantang menyerah adalah Tanca, yang selalu meyemangati dia untuk mendapatkan semua harapanya adalah Tanca, jadi sudah pasti segalanya yang ia punyai sudah di miliki oleh sahabatnya ini.
***
Setelah hampir satu bulan Tanca terus saja merepotkan orang-orang terdekatnya. Sekarang ia benar-benar sudah sehat lagi, ia sudah berhasil menerima apa yang seharusnya ia terima, sesungguhnya Kota lain itu tidak ada dan tidak akan pernah ada, benar kata orang Kota ini, Tanca terlalu bermimpi bisa membuktikan pada orang Kota Gandsai semua yang ia yakini, meskipun dalam hati Tanca yang paling dalam masih tersirat keinginan tuk kembali ke Bukit Sinagablu, sebenarnya apa yang menyerang dirinya, dan apakah benar yang menolong dia adalah sahabatnya, si Dhogle? Ia ingin menanyakan hal ini pada Dhogle, tapi ia takut Dhogle tersinggung dengan pertanyaannya itu. Apa mungkin Dhogle tau tentang manusia yang berkepala srigala? Apakah yang di maksud srigala itu, sama seperti yang di lihatnya? Semua masih menjadi tanda tanya.
Kini ia sudah bisa membantu ibunya di pasar, ia juga sudah bisa melihat kembali wajah Phitaloka, walaupun Phitaloka sekarang sudah lain denganya, Phitaloka cuek, seolah tak pernah ada hubungan apa-apa antara mereka, kemarin ia datang ke rumah Phitaloka, sekedar bertamu saja, ayah Phitaloka juga sudah berubah, sudah tak sebenci dulu. Tapi sikap Phitaloka juga ikut berubah.
“Kau kenapa sih Phita? Kok sekarang Phita beda.”
“Sudah kau temukan apa yang kau cari?”
“Maksud mu apa Phita?” Tanca terkejut mendengar pertanyaan Phitaloka yang tidak jelas itu.
“Bukankah kau ingin mewujudkan apa yang kau inginkan? Terus aja cari sesuatu yang kau yakini itu, sekarang aku tidak akan pernah melarangmu lagi” Tanca paham dengan maksud Phitaloka, ia tau Phitaloka masih marah padanya, Phitaloka memang tak pernah tau apa yang telah menimpa dirinya selama sebulan ini, yang Phitaloka tau Tanca pergi meninggalkan Phitaloka hanya karna impiannya yang tidak jelas itu. Itulah kesalahan Tanca, tidak cerita apa adanya pada Phitaloka, kemesraan yang dulu ada pada setiap nada bicaranya sudah hilang.
“Glubrag-glubrag-glubrag” ada keributan di tengah pasar, seorang pria sedang di hajar oleh Dhogle sahabat Tanca, di angkatlah badan pria itu, yang lebih besar dari Dhogle setelah tadi ia hantam  muka orang itu dengan tangannya hingga terjatuh.
“Kau boleh menghina apa saja tentang keburukanku, tapi aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah kau menghina impian Tanca dan impianku, karna setiap orang itu berhak bermimpi.” Dhogle melepaskan orang itu, yang ternyata bernama  Erwinsyah. Tanca telat sampai ke tempat kejadian, begitu sampai semua sudah selesai.
“Kenapa kau Gle, siapa orang itu?”
“Dia menghina impian kita Ca, aku tidak terima itu.”
“Ya ampun Gle, tidak sebegitunya kali, dia bener Gle impian kita tidak ada yang nyata.” Dhogle merasa terkejut dengan reaksi sahabatnya, ternyata Tanca lebih membela Erwinsyah.
“Maksud mu apa Ca? Kenapa kau berubah?” nampak jelas di wajah Dhogle kemarahan yang tak pernah Tanca lihat sebelumnya. Dhogle pergi begitu saja. Tanca mencoba mengejar Dhogle. Tapi Dhogle memang benar-benar sedang marah. Akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Dhogle pergi darinya tuk menenangkan diri.
***
Kini ia tinggal seorang diri ia pergi ke danau biasa tempat ia memadu kasih dengan kekasihnya dulu, yang kini hanyalah tinggal kenangan saja, di sore yang cerah ini ia merebahkan tubuhnya di atas batu ini, tanpa ada yang menemaninya, entah kenapa ia merasa ada yang terus mengikutinya, tapi tak ada yang nampak di belakangnya.
Tiba-tiba saja Phitaloka sudah berada di belakangnya, Tanca bener-benar terkejut dengan kedatangannya, sekaligus senang.
“Phitaloka? kau datang juga ke sini?”
“Apa yang kau lakukan pada Erwin?” Tanca tak mengerti apa yang ditanyakan Phitaloka dengan marah.
“Apa maksud mu Phita? Aku tidak mengerti.”
“Ingat ya Ca, sekarang kita sudah tak ada hubungan apa-apa, jadi aku harap kau jangan pernah mencoba tuk buat masalah denganku, Erwin adalah kekasihku, dan kau tau itu, lalu kau musuhi dia.” Tanca masih belum mengerti, Tanca bener-bener tidak mengerti, dan Tanca masih memahami apa yang sedang terjadi. Tanca tak dapat berbuat apa-apa, ia hanya menerima saja semua yang Phitaloka katakan kepadanya, Erwin siapa? Ia pun tidak mengenalnya, hati Tanca benar-benar hancur ketika Phitaloka mengatakan bahwa mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, lebih sakit lagi sewaktu Phitaloka katakan bahwa Erwin adalah kekasihnya, ia merasa sangat marah pada dirinya. Hanya karna impiannya yang menurutnya tidak ada artinya, ia harus kehilangan seorang wanita yang sangat ia cintai. Ia luapkan kemarahannya dengan berteriak sekencang-kencangnya di atas batu besar itu, tentunya setelah di tepi danau itu tidak ada siapa-siapa lagi. Ia menundukan kepalanya, ia lelah staminanya terbuang sia-sia, sebenarnya luka bekas cakaran Galasu masih terasa perih, tapi ia tidak merasakan, jauh lebih perih hatinya yang baru saja di sayat-sayat oleh orang yang sangat ia cintai.
***
   Jauh dari Tanca, Dhogle yang juga sedang bersedih karna ia merasa sahabatnya sudah lain haluan dengannya, merenung di tepi danau yang lain, tempat biasa mereka beristirahat ketika mereka selesai joging bareng, ia juga memikirkan apa yang menyerang sahabatnya di dalam Bukit yang ada di hadapannya, ia masih penasaran, ia bener-bener ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya, selama ini ia telah mengarang cerita tentang terlukanya Tanca di dadanya, ia bingung, sekarang ia harus berbuat apa, ia ingin datang sendiri ke Bukit Sinagablu, seandainya Tanca memang sudah tidak mau meneruskan impiannya, ia sekarang yakin bahwa di dalam Bukit itu tidak hanya ada kengerian, tapi di sana juga ada ke ajaiban, buktinya ketika Tanca terluka, segorespun Dhogle tak disentuh oleh makhluk yag melukai Tanca, dari itulah ia marah ketika Erwinsyah mencemooh Tanca di depan matanya. Kini yang berambisi mewujudkan impian justru Dhogle, ambisi tuk mengetahui isi Bukit Sinagablu, ia melihat rakit satu-satunya yang ada di danau tepat di depannya.

@###@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar