4.Wujud Kota lain
Perlahan Pegazus yang sekarang memiliki
nama Putri, sudah tak lagi manginjakkan kakinya di atas bumi, kini ia
benar-benar melayang, mengepakan sayapnya yang lebar, terus menembus udara
malam di atas Kota Gandsai, Pegazus itu membawa Tanca mengarungi angkasa.
Dhogle yang sedang asik nogkrong di atas genteng rumahnya, terkejut begitu
melihat ada cahaya yang dari bawah terus menuju ke angkasa.
“Kok aneh sih, seharusnya kalau itu bener
bintang jatuh kan dari langit menuju bumi, ini kok dari bumi ke langit?” di
sebabkan karna ia melihat cahaya yang menurutnya tidak masuk akal itu, ia lupa
sejenak pada orang yang terus ada di ingatannya.
“Tapi apa kalau aku memohon, permohonanku
kan di
kabulkan ya? Kan biasanya kalau ada bintang
jatuh orang-orang pada memohon sesuatu, dan permohonannya di kabulkan, tapi ini
kan bintang yang terbang, bukan bintang yang
jatuh, kan
dia arahnya ke atas?” ia masih sibuk memikirkan bintang terbang, atau bintang
jatuh.
“Alangkah baiknya, jika aku memohonnya
juga terbalik, begini kali ya memohonnya? Aku mau memohon apa ya? kalau
harapanku sih suatu saat Saphina bisa menerima cintaku, meskipun aku tau Saphina
tidak akan pernah mau menerima aku apa adanya, terus gimana dong?” yah ujungnya
Saphina lagi, Saphina lagi, tak lama kemudian akhirnya Dhogle berhasil
memfokuskan diri untuk memohon sesuatu pada bintang terbang, ada-ada saja si
Dhogle. ‘kalau memang Saphina tu bener-bener benci sama aku, ya sudah aku juga
benci deh sama dia.’ Kok gitu sih permohonannya, “bener tidak ya, permohonanku,
kalo aslinya sih aku tidak akan pernah membenci Saphina walau sebenci apapun Saphina
pada ku, bahkan untuk mendapatkan hatinya aku siap terjun dari ketinggian.” wah
Dhogle serius tidak ya dengan kata-katanya, perlahan ia bangkit, ia berjalan
perlahan, niatnya sih ia ingin turun, mungkin dia sudah mulai bosan duduk di
atap rumahnya.
“E…e…e…” Dhogle terpeleset di atap
rumahnya, meluncur seperti main sky di salju, jatuh tidak ya? Tidak! Dia Pegangan, ia
masih nyangkut di genteng, bergelantungan, persis seperti orang yang hidupnya
di hutan, alias orang hutan.
“Tolong… tolongin aku…aku masih belum
siap mati”
Dhogle merengek minta tolong, ayahnya dan
ibunya dan ke tiga adiknya sepontan keluar melihat kejadian langka itu.
“Kau sedang apa Gle? Kau nekat amat sih,
ntar kalau kau jatuhkan kau bisa mati.” Ayahnya yang selau meledeknya kembali
meledeknya lagi, kali ini memang Dhogle membuat orang-orang mentertawakannya.
“Makanya sekarang ayah cari tangga buat
nolongin aku biar tidak mati, apa ayah mau membiarkan anak ayah yang lucu ini
mati sebelum ayah mati?” dasar anak nyleneh, pasti dalam fikiran ayahnya Dhogle
seperti itu.
“Ya sudah tunggu sebentar, ayah mau
mencari tangga dulu, jangan kemana-mana!” ayah Dhogle pergi begitu saja tanpa
melihat anaknya yang sudah berusaha setengah hidup untuk bertahan tetap
bergelayutan, jangan sampai jatuh.
“Aaaaaa………ghugugh.” Dhogle sudah mendarat
darurat di tanah depan rumahnya, ayahnya langsung mendekati anaknya yang
sekarang sudah dalam posisi terlentang tak bergerak, kaku seperti patung,
ibunya bukan menolong malah mentertawakannya, lain dengan ke tiga saudaranya,
mereka bukan menolong atau mentertawakannya, tetapi mereka justru berlomba siapa
yang bisa tertawa ngakak paling lama.
“Kan
ayah sudah bilang, jangan kemana-mana.” Ayah Dhogle langsung mengangkat anak
pertamanya itu, Dhogle masih saja menahan sakit di sekujur tubuhnya, itu lah
akibat dari patah hati, lalu mencoba untuk menyembuhkan dengan cara menghibur
diri, tapi sepertinya Dhogle salah cara menghibur dirinya, akhirnya patah
tulang deh.
***
Jauh di rumah Phitaloka, ia juga sama
sedang mencoba meghibur diri, karna baru saja ia memutuskan kekasih barunya
yang baru beberapa hari, sama seperti Dhogle juga, ia merasa terkejut begitu ia
melihat ada cahaya yang dari bawah menuju ke atas. Ia juga berfikiran sama
seperti yang di fikirkan oleh Dhogle. Seperti bintang jatuh tapi kenapa bintang
itu menuju ke angkasa? Phitaloka tidak begitu focus pada sesuatu yang seperti
bintang jatuh itu, tapi ia masih berfikir, bagaimana caranya untuk minta maaf
pada Tanca, orang yang pernah ia cintai, yang kini telah ia sakiti, ia telah
meng hancurkan seluruh isi hatinya, selain ia telah memutuskannya secara sepihak,
ia juga sudah salah nilai tentang dirinya, semua gara-gara Erwinsyah yang telah
membohonginya, sekarang ia bener-bener bingung harus bagai mana, gengsi dong
kalau dia harus minta maaf duluan kalau memang Tanca masih mencintainya ia
harusnya datang padanya lalu meminta maaf sama dia.
***
Lain dengan Tanca yang sekarang sedang
merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, semua yang ia impikan selama ini telah
menjadi nyata, ia sekarang benar-benar berada di atas Kota lain, Kota yang
pernah di ceritakan oleh Gunawan kepadanya, Kota yang pernah ia ceritakan pada
semua orang di Kota Gandsai, Kota yang tak pernah di percayai keberadaanya oleh
semua orang Gandsai. Kini tak ada lagi yang berhak untuk mencemoohnya, karna ia
sudah memegang semua buktinya.
Tanca melihat segala sesuatu yang belum
pernah ia lihat, di Kota ini ia melihat ada sebuah bangunan yang tinggi, bukan
sebuah, tapi banyak sekali, dari semua bangunan yang ia lihat, kesemuanya di
penuhi oleh cahaya, di luar gedung pun banyak cahaya yang berkeliaran, ia
seperti melihat bintang di atas bumi, yang ia kira sebelumnya bumi….ya Kota
Gandsai itu, tapi kini ia sungguh tidak sedang bermimpi, ini sungguhan ia
berada di atas Kota yang selama ini hanya ada di benaknya saja, mungkin selama
ia hidup, kali inilah ia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, sampai-sampai
ia tak merasakan sakit akibat selangkangan kakinya lecet semua, karna memang
sebelumnya ia tidak pernah naik Pegazus, jadi begitu ia naik, ia harus
mencengkram punggung Pegazus itu, supaya ia tetap berada di atas Pegazus, kalau
tidak, ia akan terjatuh dan mungkin akan lebih parah dari Dhogle yang sekarang
ia masih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, karna ia jatuh dari atap
rumahnya, nah kalo jatuhnya dari atas Pegazus yang sedang tebang, bagai mana
jadinya?
“Nguuueeeeng” sebuah benda besar, besar
sekali hampir menabrak Tanca dan Pegazus yang ia tunggangi, hampir saja Tanca
jatuh dari punggung Pegazus.
“Benda apaan tuh?” Tanca memang tidak tau
benda apa itu, bentuknya seperti burung, tapi mana ada burung sebesar itu,
entahlah, yang jelas dari dalam benda itu keluar cahaya, di dalamnya terdapat
banyak orang. Jauh di daratan sana
Tanca melihat ada banyak benda yang berjalan teratur, tertib meskipun banyak,
benda itu tetap dalam jalurnya, bila benda yang terdepan berhenti maka benda
yang lain ikut berhenti, masing-masing benda itu memiliki dua cahaya yang
keluar dari dua sisinya, kanan dan kiri, semua mengarah ke depan, menerangi
jalan yang akan di tempuhnya, sungguh indah. Ada lagi benda yang lebih kecil, benda itu
bisa nyelip-nyelip di antara benda yang besar, dan benda itu hanya mengeluarkan
satu cahaya saja.
Pegazus itu terus membawa Tanca ke arah
utara, sampailah ia dan sang Kuda Putih bersayap itu di sebuah danau, tapi
danaunya sangat luas, bahkan sangat amat luas, tak terlihat seberapa luas danau
itu, di sini pun ada benda yang sangat besar, lebih besar dari benda yang ada
di daratan, juga lebih besar dari benda yang hampir menjatuhkan Tanca dari
Pegazus, tapi benda ini dapat mengapung di air, dan benda ini bukanlah ikan, di
dalam benda itu terlihat banyak orangnya, lagi-lagi dari dalam benda besar itu
mengeluarkan cahaya, cahaya ada di mana-mana, setiap benda yang besar, yang
terus mengapung, yang terus melaju, pasti mengeluarkan cahaya, dan itu tidak
sedikit, tapi tak ada yang saling berebut, seperti juga benda-benda yang ada di
daratan, benda itu tertib, beratur, tak ada yang tabrakan. Ada yang janggal
dari semua yang ia lihat di Kota ini, Tanca tak pernah sekalipun melihat api
selama ia berada di Kota lain ini, Kota yang sampai sekarang Tanca pun tak tau
namanya, andaikan saja, Kuda Putih bersayap ini dapat berbicara, pasti Tanca
sudah asik terus bertanya pada Kuda itu, apa saja yang tidak ia mengerti, dan
yang ia tidak ketahui, tapi Pegazus itu masih tetap membisu, ia hanya terus
terbang, tanpa memperdulikan semua pertanyaan-pertanyaan Tanca, yang terus
menumpuk di dalam benaknya. Apa ini apa itu, kenapa begini kenapa begitu,
bagaimana ini terjadi, bagaimana itu terjadi, dan masih terus ia bertanya,
tanpa ada jawabanya.
Kini yang ia pikirkan adalah bagaimana
caranya membuat orang-orang Kota Gandsai mempercayai apa yang sekarang ia
lihat, bila nanti ia sampai lagi ke Kota tempat ia lahir, karna ia tau, orang
Gandsai pasti tak akan ada yang percaya kepadanya.
Tanca sendiri tak pernah menyangka, bila
ia akhirnya akan menemukan Kota
lain yang selama ini hanya ada di benaknya saja. Lama sekali Pegazus itu
membawa Tanca berkeliling-keliling Kota lain, hingga Tanca kini benar-benar
merasa lapar, staminanya pun berkurang, rasa perih di selangkangan Tanca pun
semakin terasa, Kuda Putih bersayap itu pun akhirnya sedikit ke permukaan bumi,
entah kenapa Pegazus itu seperti bingung, mungkin karna ia tak tau jalan pulang
ke Kota Gandsai, atau… entahlah, Sepertinya Tanca sekarang sudah tak kuat lagi untuk
duduk tegak di atas punggung Pegazus, ia memang sudah sangat kelelahan, ia
memeluk erat tubuh Kuda Putih bersayap itu.
“Putri ayo kita pulang, aku sudah tidak
kuat lagi!” Tanca sambil merengek, ia memejapkan matanya, tak lama setelah itu Tanca
benar-benar tertidur di atas punggung Pegazus, Pegazus itu pun akhirnya sampai
di daratan bumi. Sebuah daratan yang di
kelilingi oleh garis-garis, dan garis itu sebenarnya adalah sungai yang
mengelilingi kota Gandsai, yang bila di lihat dari atas daratan, seperti sebuah
lukisan yang berbentuk kuda yang memiliki sayap, di samping lukisan itu
terdapat juga daratan yang berbentuk lukisan srigala, entah daratan apa itu,
tapi Pegazus itu menuju daratan yang berbentuk lukisan kuda bersayap, Ia
mendarat tepat di depan rumah Tanca, akhirnya Tanca sampai rumah lagi setelah
ia mengelilingi angkasa kota lain, Kota yang penuh dengan bangunan-bangunan
besar dan tinggi, yang di penuhi dengan cahaya yang bukan cahaya dari api,
entah cahaya apa itu, cahaya yang lebih terang dari api, tapi tiba-tiba mereka
sudah berada di Kota Gandsai, yang tau misteri ini saat ini adalah Putri, Sang
Kuda Putih bersayap alias sang Pegazus, entah kenapa Kuda Putih bersayap yang
sebenarnya adalah seorang Putri itu tak bisa berbicara dengan Tanca, padahal
sebenarnya Pegazus itu bisa berbicara, seperti waktu ia berbicara dengan Gondho,
orang bercadar pemimpin di Bukit Sinagablu.
Akhirnya pagi sudah tiba, Tanca mencoba membuka mata, ia masih berada di
atas punggung Pegazus yang juga sedang tertidur di atas ranjang tidurnya.
Begitu ia benar-benar sadar ia terkejut, ternyata ia memang tidak bermimpi naik
seekor Kuda bersayap mengelilingi Kota lain, ia baru merasakan perihnya
selangkangan yang sudah lecet dari semalam, setelah ia berusaha untuk
menggerakan tubuhnya, si Putri, Pegazus itu pun ikut bangun ia membenarkan
sayap-sayapnya yang sedikit lusuh.
“Eh…Putri juga sudah bangun ya?” sambil
ia menahan sakit ia menyapa teman barunya yang berbentuk binatang langka seekor
Kuda tapi ia mempunyai sayap. Pegazus itu tau kalau Tanca sedang menahan sakit,
sang Pegazus itu pun dengan tanpa sepengetahuan dari Tanca mengeluarkan semacam
cahaya dari tubuhnya, cahaya itu menyerap ke luka-luka Tanca, seketika Tanca
merasa semua luka-lukanya makin sakit.
“Kenapa ini, kok lukaku makin sakit?” Tanca
masih bisa menahan rasa sakit ini, tapi lama-lama rasa perih itu seperti
meronta-ronta, perih itu memaksa Tanca untuk berteriak “Perih…” selesai ia
menjerit, ia melihat keadaan luka yang ia derita, tak ada luka lagi, persis
sama kejadiannya ketika luka di dadanya secara ajaib menghilang begitu saja.
Dari dapur, ibu Rahayu, yaitu ibunya Tanca
sudah siap dengan semua makanannya, nasi, sayuran, lauk, dan buah-buahan.
“Kau kenapa sih Tanca? Pagi-pagi begini
udah ribut sendiri, apanya yang perih? Biar ibu obatin sini.”
“Tidak bu, sudah sembuh kok” Tanca terus
melihat ibunya lalu melihat ke Putri, teman barunya. “Ibu melihat ada makhluk
lain di ruangan ini apa tidak bu?”
“Maksud Tanca?” ibu Rahayu tidak memahami
pertanyaan Tanca.
“Ya, sejenis Kuda, tapi dia mempunyai
sayap…” Tanca bingung menjelaskannya.
“Maksud Tanca Pegazus?”
“Bener bu, Pegazus!” Tanca langsung
bersemangat begitu Tanca mendengar kata Pegazus keluar dari mulut ibunya.
“Tidak tuh, memangnya makhluk itu bener
ada? Nah kau tau dari mana nama Pegazus itu?”
“…” Tanca jadi bingung menjelaskan pada
ibunya, justru Tanca balik tanya “Ibu sendiri tau dari siapa nama itu, Tanca
kan tau dari ibu.”
“Kapan ibu ngomongnya?”
“Baru saja ibu ngomong tentang Pegazus.” Tanca
melihat Putri bergerak ia pergi ke dapur.
“Eh mau kemana?”
“Tidak kemana-mana kok, ibu justru ingin
cerita ke Tanca tentang Pegazus itu.” Putri terus jalan ke dapur, ibunya tak
dapat melihatnya, dan memang tak ada yang bisa melihat kecuali Tanca seorang.
Ibunya duduk di samping Tanca di atas
ranjangnya.
“Dulu sebelum kau lahir, sebelum ibu
mengandung kau, dan sebelum ibu bertemu dengan ayahmu, dan sebelum ibu menjadi
seorang wanita dewasa….”
Seorang anak perempuan berusia lima
tahun, sedang tidur di pelukan ibunya, ibu dari anak itu terlihat panik, karna
ayah dari anak yang ia gendong lama tak pulang-pulang, tiba-tiba pintu rumahnya
terbuka, ayah dari anak itu sudah kembali dengan ke adaan yang lebih panik.
“Ibu, gawat bu…”
“Kenapa yah?”
“Ayah bertemu dengan Pegazus…” anak
perempuan yang sedang tidur itu terbangun.
“Rahayu,…” ia lekas mengambil anaknya
dari gendongan ibunya.
“Ayah sudah bertemu dengan makhluk itu,
makhluk itu lebih cantik dari apapun Yu, wujudnya seperti Kuda, tapi Kuda itu
memiliki sayap, luar biasa indahnya.” Ayah dari anak bernama Rahayu itu
menceritakan wujud Pegazus yang baru ia temui.
“Tapi…” manusia yang bertubuh mirip
sekali dengan Tanca itu menunjukan wajah
kecewanya.
“Tapi kenapa ayah?”
“Pegazus itu perlu pertolongan ayah, ayah
harus pergi, ayah harus menolong Pegazus itu.”
“Rahayu ikut..!” anak itu merengek “Rahayu
ingin melihat Pegazus.”
“Tidak Rahayu, ini sangat berbahaya, Rahayu
di rumah saja dengan ibu ya! Ayah janji, ayah pasti akan kembali.”
“Ayah…Rahayu tidak mau. Rahayu mau ikut,
ayah… Rahayu ikut.” Anak itu terus menangis, tapi ayahnya memberikan Rahayu
kembali pada ibunya, ayahnya memeluk erat ibu dan anak itu sekaligus, Rahayu
masih tetap menangis.
“Jaga Rahayu ya bu, ayah janji, ayah akan
kembali, ayah akan menemui kalian kembali” dengan berat hati ayah Rahayu
melepas pelukannya, perlahan ia menjauh dari ke dua orang yang ia kasihi, lalu
kemudian pergi.
“Kakek mu tak pernah kembali lagi, dua
tahun setelah itu nenekmu meninggal dunia karna terus memikirkan kakekmu,
segalanya ibu lakukan untuk menyambung hidup, hingga akhirnya ibu bertemu
ayahmu.”
@###@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar