Jumat, 10 April 2015

4. Wujud Kota lain



4.Wujud Kota lain
Perlahan Pegazus yang sekarang memiliki nama Putri, sudah tak lagi manginjakkan kakinya di atas bumi, kini ia benar-benar melayang, mengepakan sayapnya yang lebar, terus menembus udara malam di atas Kota Gandsai, Pegazus itu membawa Tanca mengarungi angkasa. Dhogle yang sedang asik nogkrong di atas genteng rumahnya, terkejut begitu melihat ada cahaya yang dari bawah terus menuju ke angkasa.
“Kok aneh sih, seharusnya kalau itu bener bintang jatuh kan dari langit menuju bumi, ini kok dari bumi ke langit?” di sebabkan karna ia melihat cahaya yang menurutnya tidak masuk akal itu, ia lupa sejenak pada orang yang terus ada di ingatannya.
“Tapi apa kalau aku memohon, permohonanku kan di kabulkan ya? Kan biasanya kalau ada bintang jatuh orang-orang pada memohon sesuatu, dan permohonannya di kabulkan, tapi ini kan bintang yang terbang, bukan bintang yang jatuh, kan dia arahnya ke atas?” ia masih sibuk memikirkan bintang terbang, atau bintang jatuh.
“Alangkah baiknya, jika aku memohonnya juga terbalik, begini kali ya memohonnya? Aku mau memohon apa ya? kalau harapanku sih suatu saat Saphina bisa menerima cintaku, meskipun aku tau Saphina tidak akan pernah mau menerima aku apa adanya, terus gimana dong?” yah ujungnya Saphina lagi, Saphina lagi, tak lama kemudian akhirnya Dhogle berhasil memfokuskan diri untuk memohon sesuatu pada bintang terbang, ada-ada saja si Dhogle. ‘kalau memang Saphina tu bener-bener benci sama aku, ya sudah aku juga benci deh sama dia.’ Kok gitu sih permohonannya, “bener tidak ya, permohonanku, kalo aslinya sih aku tidak akan pernah membenci Saphina walau sebenci apapun Saphina pada ku, bahkan untuk mendapatkan hatinya aku siap terjun dari ketinggian.” wah Dhogle serius tidak ya dengan kata-katanya, perlahan ia bangkit, ia berjalan perlahan, niatnya sih ia ingin turun, mungkin dia sudah mulai bosan duduk di atap rumahnya.
“E…e…e…” Dhogle terpeleset di atap rumahnya, meluncur seperti main sky di salju, jatuh tidak ya? Tidak! Dia Pegangan, ia masih nyangkut di genteng, bergelantungan, persis seperti orang yang hidupnya di hutan, alias orang hutan.
“Tolong… tolongin aku…aku masih belum siap mati”
Dhogle merengek minta tolong, ayahnya dan ibunya dan ke tiga adiknya sepontan keluar melihat kejadian langka itu.
“Kau sedang apa Gle? Kau nekat amat sih, ntar kalau kau jatuhkan kau bisa mati.” Ayahnya yang selau meledeknya kembali meledeknya lagi, kali ini memang Dhogle membuat orang-orang mentertawakannya.
“Makanya sekarang ayah cari tangga buat nolongin aku biar tidak mati, apa ayah mau membiarkan anak ayah yang lucu ini mati sebelum ayah mati?” dasar anak nyleneh, pasti dalam fikiran ayahnya Dhogle seperti itu.
“Ya sudah tunggu sebentar, ayah mau mencari tangga dulu, jangan kemana-mana!” ayah Dhogle pergi begitu saja tanpa melihat anaknya yang sudah berusaha setengah hidup untuk bertahan tetap bergelayutan, jangan sampai jatuh.
“Aaaaaa………ghugugh.” Dhogle sudah mendarat darurat di tanah depan rumahnya, ayahnya langsung mendekati anaknya yang sekarang sudah dalam posisi terlentang tak bergerak, kaku seperti patung, ibunya bukan menolong malah mentertawakannya, lain dengan ke tiga saudaranya, mereka bukan menolong atau mentertawakannya, tetapi mereka justru berlomba siapa yang bisa tertawa ngakak paling lama.
“Kan ayah sudah bilang, jangan kemana-mana.” Ayah Dhogle langsung mengangkat anak pertamanya itu, Dhogle masih saja menahan sakit di sekujur tubuhnya, itu lah akibat dari patah hati, lalu mencoba untuk menyembuhkan dengan cara menghibur diri, tapi sepertinya Dhogle salah cara menghibur dirinya, akhirnya patah tulang deh.
***
Jauh di rumah Phitaloka, ia juga sama sedang mencoba meghibur diri, karna baru saja ia memutuskan kekasih barunya yang baru beberapa hari, sama seperti Dhogle juga, ia merasa terkejut begitu ia melihat ada cahaya yang dari bawah menuju ke atas. Ia juga berfikiran sama seperti yang di fikirkan oleh Dhogle. Seperti bintang jatuh tapi kenapa bintang itu menuju ke angkasa? Phitaloka tidak begitu focus pada sesuatu yang seperti bintang jatuh itu, tapi ia masih berfikir, bagaimana caranya untuk minta maaf pada Tanca, orang yang pernah ia cintai, yang kini telah ia sakiti, ia telah meng hancurkan seluruh isi hatinya, selain ia telah memutuskannya secara sepihak, ia juga sudah salah nilai tentang dirinya, semua gara-gara Erwinsyah yang telah membohonginya, sekarang ia bener-bener bingung harus bagai mana, gengsi dong kalau dia harus minta maaf duluan kalau memang Tanca masih mencintainya ia harusnya datang padanya lalu meminta maaf sama dia.
***
Lain dengan Tanca yang sekarang sedang merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, semua yang ia impikan selama ini telah menjadi nyata, ia sekarang benar-benar berada di atas Kota lain, Kota yang pernah di ceritakan oleh Gunawan kepadanya, Kota yang pernah ia ceritakan pada semua orang di Kota Gandsai, Kota yang tak pernah di percayai keberadaanya oleh semua orang Gandsai. Kini tak ada lagi yang berhak untuk mencemoohnya, karna ia sudah memegang semua buktinya.
Tanca melihat segala sesuatu yang belum pernah ia lihat, di Kota ini ia melihat ada sebuah bangunan yang tinggi, bukan sebuah, tapi banyak sekali, dari semua bangunan yang ia lihat, kesemuanya di penuhi oleh cahaya, di luar gedung pun banyak cahaya yang berkeliaran, ia seperti melihat bintang di atas bumi, yang ia kira sebelumnya bumi….ya Kota Gandsai itu, tapi kini ia sungguh tidak sedang bermimpi, ini sungguhan ia berada di atas Kota yang selama ini hanya ada di benaknya saja, mungkin selama ia hidup, kali inilah ia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, sampai-sampai ia tak merasakan sakit akibat selangkangan kakinya lecet semua, karna memang sebelumnya ia tidak pernah naik Pegazus, jadi begitu ia naik, ia harus mencengkram punggung Pegazus itu, supaya ia tetap berada di atas Pegazus, kalau tidak, ia akan terjatuh dan mungkin akan lebih parah dari Dhogle yang sekarang ia masih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, karna ia jatuh dari atap rumahnya, nah kalo jatuhnya dari atas Pegazus yang sedang tebang, bagai mana jadinya?
“Nguuueeeeng” sebuah benda besar, besar sekali hampir menabrak Tanca dan Pegazus yang ia tunggangi, hampir saja Tanca jatuh dari punggung Pegazus.
“Benda apaan tuh?” Tanca memang tidak tau benda apa itu, bentuknya seperti burung, tapi mana ada burung sebesar itu, entahlah, yang jelas dari dalam benda itu keluar cahaya, di dalamnya terdapat banyak orang. Jauh di daratan sana Tanca melihat ada banyak benda yang berjalan teratur, tertib meskipun banyak, benda itu tetap dalam jalurnya, bila benda yang terdepan berhenti maka benda yang lain ikut berhenti, masing-masing benda itu memiliki dua cahaya yang keluar dari dua sisinya, kanan dan kiri, semua mengarah ke depan, menerangi jalan yang akan di tempuhnya, sungguh indah. Ada lagi benda yang lebih kecil, benda itu bisa nyelip-nyelip di antara benda yang besar, dan benda itu hanya mengeluarkan satu cahaya saja.
Pegazus itu terus membawa Tanca ke arah utara, sampailah ia dan sang Kuda Putih bersayap itu di sebuah danau, tapi danaunya sangat luas, bahkan sangat amat luas, tak terlihat seberapa luas danau itu, di sini pun ada benda yang sangat besar, lebih besar dari benda yang ada di daratan, juga lebih besar dari benda yang hampir menjatuhkan Tanca dari Pegazus, tapi benda ini dapat mengapung di air, dan benda ini bukanlah ikan, di dalam benda itu terlihat banyak orangnya, lagi-lagi dari dalam benda besar itu mengeluarkan cahaya, cahaya ada di mana-mana, setiap benda yang besar, yang terus mengapung, yang terus melaju, pasti mengeluarkan cahaya, dan itu tidak sedikit, tapi tak ada yang saling berebut, seperti juga benda-benda yang ada di daratan, benda itu tertib, beratur, tak ada yang tabrakan. Ada yang janggal dari semua yang ia lihat di Kota ini, Tanca tak pernah sekalipun melihat api selama ia berada di Kota lain ini, Kota yang sampai sekarang Tanca pun tak tau namanya, andaikan saja, Kuda Putih bersayap ini dapat berbicara, pasti Tanca sudah asik terus bertanya pada Kuda itu, apa saja yang tidak ia mengerti, dan yang ia tidak ketahui, tapi Pegazus itu masih tetap membisu, ia hanya terus terbang, tanpa memperdulikan semua pertanyaan-pertanyaan Tanca, yang terus menumpuk di dalam benaknya. Apa ini apa itu, kenapa begini kenapa begitu, bagaimana ini terjadi, bagaimana itu terjadi, dan masih terus ia bertanya, tanpa ada jawabanya.
Kini yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya membuat orang-orang Kota Gandsai mempercayai apa yang sekarang ia lihat, bila nanti ia sampai lagi ke Kota tempat ia lahir, karna ia tau, orang Gandsai pasti tak akan ada yang percaya kepadanya.
Tanca sendiri tak pernah menyangka, bila ia akhirnya akan menemukan Kota lain yang selama ini hanya ada di benaknya saja. Lama sekali Pegazus itu membawa Tanca berkeliling-keliling Kota lain, hingga Tanca kini benar-benar merasa lapar, staminanya pun berkurang, rasa perih di selangkangan Tanca pun semakin terasa, Kuda Putih bersayap itu pun akhirnya sedikit ke permukaan bumi, entah kenapa Pegazus itu seperti bingung, mungkin karna ia tak tau jalan pulang ke Kota Gandsai, atau… entahlah, Sepertinya Tanca sekarang sudah tak kuat lagi untuk duduk tegak di atas punggung Pegazus, ia memang sudah sangat kelelahan, ia memeluk erat tubuh Kuda Putih bersayap itu.
“Putri ayo kita pulang, aku sudah tidak kuat lagi!” Tanca sambil merengek, ia memejapkan matanya, tak lama setelah itu Tanca benar-benar tertidur di atas punggung Pegazus, Pegazus itu pun akhirnya sampai di daratan bumi. Sebuah daratan yang di  kelilingi oleh garis-garis, dan garis itu sebenarnya adalah sungai yang mengelilingi kota Gandsai, yang bila di lihat dari atas daratan, seperti sebuah lukisan yang berbentuk kuda yang memiliki sayap, di samping lukisan itu terdapat juga daratan yang berbentuk lukisan srigala, entah daratan apa itu, tapi Pegazus itu menuju daratan yang berbentuk lukisan kuda bersayap, Ia mendarat tepat di depan rumah Tanca, akhirnya Tanca sampai rumah lagi setelah ia mengelilingi angkasa kota lain, Kota yang penuh dengan bangunan-bangunan besar dan tinggi, yang di penuhi dengan cahaya yang bukan cahaya dari api, entah cahaya apa itu, cahaya yang lebih terang dari api, tapi tiba-tiba mereka sudah berada di Kota Gandsai, yang tau misteri ini saat ini adalah Putri, Sang Kuda Putih bersayap alias sang Pegazus, entah kenapa Kuda Putih bersayap yang sebenarnya adalah seorang Putri itu tak bisa berbicara dengan Tanca, padahal sebenarnya Pegazus itu bisa berbicara, seperti waktu ia berbicara dengan Gondho, orang bercadar pemimpin di Bukit Sinagablu.
   Akhirnya pagi sudah tiba, Tanca mencoba membuka mata, ia masih berada di atas punggung Pegazus yang juga sedang tertidur di atas ranjang tidurnya. Begitu ia benar-benar sadar ia terkejut, ternyata ia memang tidak bermimpi naik seekor Kuda bersayap mengelilingi Kota lain, ia baru merasakan perihnya selangkangan yang sudah lecet dari semalam, setelah ia berusaha untuk menggerakan tubuhnya, si Putri, Pegazus itu pun ikut bangun ia membenarkan sayap-sayapnya yang sedikit lusuh.
“Eh…Putri juga sudah bangun ya?” sambil ia menahan sakit ia menyapa teman barunya yang berbentuk binatang langka seekor Kuda tapi ia mempunyai sayap. Pegazus itu tau kalau Tanca sedang menahan sakit, sang Pegazus itu pun dengan tanpa sepengetahuan dari Tanca mengeluarkan semacam cahaya dari tubuhnya, cahaya itu menyerap ke luka-luka Tanca, seketika Tanca merasa semua luka-lukanya makin sakit.
“Kenapa ini, kok lukaku makin sakit?” Tanca masih bisa menahan rasa sakit ini, tapi lama-lama rasa perih itu seperti meronta-ronta, perih itu memaksa Tanca untuk berteriak “Perih…” selesai ia menjerit, ia melihat keadaan luka yang ia derita, tak ada luka lagi, persis sama kejadiannya ketika luka di dadanya secara ajaib menghilang begitu saja.
Dari dapur, ibu Rahayu, yaitu ibunya Tanca sudah siap dengan semua makanannya, nasi, sayuran, lauk, dan buah-buahan.
“Kau kenapa sih Tanca? Pagi-pagi begini udah ribut sendiri, apanya yang perih? Biar ibu obatin sini.”
“Tidak bu, sudah sembuh kok” Tanca terus melihat ibunya lalu melihat ke Putri, teman barunya. “Ibu melihat ada makhluk lain di ruangan ini apa tidak bu?”
“Maksud Tanca?” ibu Rahayu tidak memahami pertanyaan Tanca.
“Ya, sejenis Kuda, tapi dia mempunyai sayap…” Tanca bingung menjelaskannya.
“Maksud Tanca Pegazus?”
“Bener bu, Pegazus!” Tanca langsung bersemangat begitu Tanca mendengar kata Pegazus keluar dari mulut ibunya.
“Tidak tuh, memangnya makhluk itu bener ada? Nah kau tau dari mana nama Pegazus itu?”
“…” Tanca jadi bingung menjelaskan pada ibunya, justru Tanca balik tanya “Ibu sendiri tau dari siapa nama itu, Tanca kan tau dari ibu.”
“Kapan ibu ngomongnya?”
“Baru saja ibu ngomong tentang Pegazus.” Tanca melihat Putri bergerak ia pergi ke dapur.
“Eh mau kemana?”
“Tidak kemana-mana kok, ibu justru ingin cerita ke Tanca tentang Pegazus itu.” Putri terus jalan ke dapur, ibunya tak dapat melihatnya, dan memang tak ada yang bisa melihat kecuali Tanca seorang.
Ibunya duduk di samping Tanca di atas ranjangnya.
“Dulu sebelum kau lahir, sebelum ibu mengandung kau, dan sebelum ibu bertemu dengan ayahmu, dan sebelum ibu menjadi seorang wanita dewasa….”
Seorang anak perempuan berusia lima tahun, sedang tidur di pelukan ibunya, ibu dari anak itu terlihat panik, karna ayah dari anak yang ia gendong lama tak pulang-pulang, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka, ayah dari anak itu sudah kembali dengan ke adaan yang lebih panik.
“Ibu, gawat bu…”
“Kenapa yah?”
“Ayah bertemu dengan Pegazus…” anak perempuan yang sedang tidur itu terbangun.
“Rahayu,…” ia lekas mengambil anaknya dari gendongan ibunya.
“Ayah sudah bertemu dengan makhluk itu, makhluk itu lebih cantik dari apapun Yu, wujudnya seperti Kuda, tapi Kuda itu memiliki sayap, luar biasa indahnya.” Ayah dari anak bernama Rahayu itu menceritakan wujud Pegazus yang baru ia temui.
“Tapi…” manusia yang bertubuh mirip sekali dengan Tanca itu  menunjukan wajah kecewanya.
“Tapi kenapa ayah?”
“Pegazus itu perlu pertolongan ayah, ayah harus pergi, ayah harus menolong Pegazus itu.”
“Rahayu ikut..!” anak itu merengek “Rahayu ingin melihat Pegazus.”
“Tidak Rahayu, ini sangat berbahaya, Rahayu di rumah saja dengan ibu ya! Ayah janji, ayah pasti akan kembali.”
“Ayah…Rahayu tidak mau. Rahayu mau ikut, ayah… Rahayu ikut.” Anak itu terus menangis, tapi ayahnya memberikan Rahayu kembali pada ibunya, ayahnya memeluk erat ibu dan anak itu sekaligus, Rahayu masih tetap menangis.
“Jaga Rahayu ya bu, ayah janji, ayah akan kembali, ayah akan menemui kalian kembali” dengan berat hati ayah Rahayu melepas pelukannya, perlahan ia menjauh dari ke dua orang yang ia kasihi, lalu kemudian pergi.
“Kakek mu tak pernah kembali lagi, dua tahun setelah itu nenekmu meninggal dunia karna terus memikirkan kakekmu, segalanya ibu lakukan untuk menyambung hidup, hingga akhirnya ibu bertemu ayahmu.”
@###@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar